Dicicipi Pak Dhe
By sebastian | November 11, 2007
Cerita ku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya, meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.
Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe, hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.
Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di malang, Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak karena usia perkimpoianku baru berjalan 4 bulan dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman laki-lakiku.
Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik, tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan Susu yang tak terlalu gede tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis. Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang, mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat kuat sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu memuaskan tempikku, meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang puas!
Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit, aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul 15.00 tadi, padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi. “He..eh” aku pun Cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.
“Hallo!” suara perempuan mengagetkan ku dari lamunan.
“Ya !” jawabku sambil berdiri. Sejurus aku memandang kearah perempuan itu, Cantik!
“Nona Rinelda ?” dia bertanya sambilmengulurkan tangan mempersilahkan aku kembali duduk.
Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda, dia memakai jam gede di tangan kanannya, dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkan ku pada teman SMP ku di Malang, ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model, setelah berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu Modelnya. Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja, aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.
Sesampainya di jalan sebelum rumahku , sekedar anda tahu bahwa sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari Ibu ku. Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya, mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-teman ku memng mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.
“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !” Ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.
“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.
Sampai di rumah pukul 18.30. aku langsung mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.
“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” ku dengar suara BuDhe Tatik dari dalam kamarnya.
“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.” kerja yang benar jangan melawan sama atasan terima saja perintah atasan karena mencari pekerjaan itu sulit dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang kamu kerjakan” kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku. Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok apalagi jika berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahun an, cukup seksi dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS, dia pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau teman-temannya. Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke kamar,
Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek. Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti didongong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis, sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.
Sedikit kubuka pintu kamarku, betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantat nya bergerak maju mundur..
“Och…u..o..” suara yang keluar dari mulut BuDhe. Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya, badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku. Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil duduk akhirnya PakDhe menarik kontolnya dari dalam Tempik BuDhe, Yak ampun ternyata kontol nya lumayan gede lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku, akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang kerja, pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku, namun ternyata PakDhe tidak peduli dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku, namun saat itu PakDhe hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.
Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangan nya memegang kursi di hadapannya “ayo mas cepet keburu tempiknya kering” pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak mendengar dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat. Kulihat kali ini PakDhe mengeloco kontolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.
“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut. akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka menmbelakangi kamarku. Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tangan ku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai, ku tekan pada itilnya “ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini. Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.
“Tempikmu… ue.nak .Tik pe… res… kontol ku” kata kata terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.
“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.
“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah berteriak.Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot dengan lebih giat kali ini tangan nya memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu dan akhirnya laki-laki itupun menekan kontolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut. Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada kontol dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum, “hek” aku kaget setengah mati segera ku tutup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku, beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi. Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.
Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi, “yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.
Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno. Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar dan memiliki batang kontol yang kokoh tegak berdiri dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan kontol laki-laki, tapi terkadang aku merasa ada yang kurang dan memang aku butuh kontol yang sebenarnya, Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu. Kulihat jam didinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besiok aku kan mulai kerja! Sialan gara-gara kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa? “ah sialan!” umpatku dalam hati.
Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam, pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar, aku langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi, terkadang aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan altivitasku sendiri, aku merasa adalah suatu vyang lumrah karena aku menumpang disini.
Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar, sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali, kulihat senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.
Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku “terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat kontol yang gede milik PakDhe. “ahh” rupanya tangan ku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya, tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya, “sialan!” pikirku dalam hati. Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiran ku.
Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku, kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.
“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,
“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk. Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu sampai atas lulutnya wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.
“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.
“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.
“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan” katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.
“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.
Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,
“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,
“Ada yang bias saya Bantu mbak?” Tanya nya dengan sopan. Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.
“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.
“Bu Rifda Miranti? pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan. Aku cuma mengangguk.
“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya, ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling “Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.
“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu” katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar. Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini, tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran, kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku, tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita
“Rinelda?”
“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kea rah datangnya suara tadi,
“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.
“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kenbali bertanya
“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!” sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.
“Tunggu sebentar ya” kata Agatha. Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik, berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.
“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar. Ternyata didalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya “ nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda” kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.
“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka” aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda. Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,
“Rif, kami perlu kerja di dalam studio” kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera. Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.
“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha. Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut, ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya, ku coba untuk mendekat pada ruangan itu, aku semakin penasaran lerja macam apa kok suaranya seperti… Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi… “Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.
“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya, tertulis didepan pintu ruangan tersebut.
“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati. Didalam ruangan itu terdapat banyak Foto diatas meja.
“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.
“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku. “ah..ya..” dia menunjuk kearah belakangnya. Aku langsung bergerak ke sana, masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….” Suara khas air
yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samara-samar suara laki-laki.
“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu terdengar suara wanita tertawa, segera lu ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi, setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu rifda sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini, saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian, kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.
“Maaf bu” kataku,
“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya, “ini bu?” kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri “ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF. Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.
“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin karena target penjualan kita adalah kaum Pria” kata nya sambil membenahi pakaianya,
“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi” , aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya;
“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,
“Kenapa?” dia balik bertanya,
“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,
“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya” katanya sambil menunjuk sebuah televise berukuran raksasa di belakangku, betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku, ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di
sebuah ruangan kosong yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu, setengah tak percaya kembali kulihat kea rah bu Rifda, dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di layer tersebut, aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar, tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci! Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan adegan Agatha dan laki-laki itu dihadapanya.
“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau tapi itu tak akan berguna karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.
“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam. Aku pun telah paham bahwa aku tak bias berbuat apa-apa, saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu dan tanpa kusadari dia telah menarik tangan ku kebelakang dan mengikatnya dengan tangkas, aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.
“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu” katanya, sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku, Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang, dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak, dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,
“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku dalam hati.
Dari layer raksasa dhadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.
‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?” tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menikan volume pada remote controlnya.
“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya. Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu, tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.
“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.
“Tapi kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha tak terselesaikan.
“Jangan munafik Rin kamu past terangsang kan?” lagi suara Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…
“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.
Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak
“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!” kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha, kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya sementara laki-laki itu menekan-nekan kontolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu, cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…
“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!” nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah namun si lelaki itu terus mengocok kontolnya yang masih menegang itu sambil tangannya memegang bongkahan pantat Agatha, aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku, seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.
“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha. Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata
“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang aku rasakan.
“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.
“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!” lalu dia menekan kembali remote di tangannya kea rah layer raksasa di dan… “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!
Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Rifda, dia sedang sibuk mengulum kontol seorang laki-laki disebuah ruangan yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus, ku lihat Pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya, sementara tangan kiri
BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.
“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati kontol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.
“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.
“Maksudmu?” tanyaku,
“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu, belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal berbuat dengan orang lain seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.
“Kontol mu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !” kali ini BuDhe nampak gemas memegang kontol besar itu dengan kedua tangannya, kontol Pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe yang kulihat semalam kelihatan kokoh berdiri dan lebih berotot apalagi kepala kontol Pria ini nampak besar dan mengkilap karena sinar dari kamera, nampak sekali bahwa pria itu sangat menikmati emutan mulut BuDhe, mendengar suara Budhe dan laki-laki itu saling ah..uh.. membuat aku jadi terangsang, aku jadi salah tingkah karenanya, ku toleh ke arah Rifda ternyata wanita itu sedang sibuk memasukan sesuatu kebawah tubuhnya kutahu dia sedang mencari kenikmatan di tempiknya mengetahui aku melihatnya wanita itu mendekati aku dang menunjukan sebuah tongkat kecil yang mirip… kontol!
“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang” katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.
“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya” aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini, Rifda mengosok-gosokkan kontol mainan itu ke arah selakanganku, aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar! Dia membuka resleting celanaku, sekali lagi aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu. Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai, diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari layer didepanku
“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!” kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengakang memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak. Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya. Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.
“Wah ternyata Jembut kamu tebal juga Rin” kata Rifda kemudian tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya, kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya, sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,
Saat Rifda sedang sibuk meng emek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan mennjadi sangat terang, dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini. Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.
“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini” ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe! tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Rifda.
“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini” kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang. Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.
Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitar ku saat ini, saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku dengan menggerakan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe, laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.
“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !” kata Rifda sambil melihatku, tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut kontol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang, sementara tangan PakDhe meremas-remas susu Rifda yang Cuma terbuka pada putingnya sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.
“U… uh” kata Rifda gemas mengocok kontol di tangannya.
“Sudah, langsung aja masukin kontolmu pak!”
“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?” Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda. Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya memnbelakangi tubuh PakDhe, dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang kontol yang dipegangnya kearah tempik Rifda yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.
“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!” kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan kontolnya lebih dalam.
Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak karena gerakan tubuhnya sementara kontol PakDhe yang sedang berusaha memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.
“Ah….” kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe kemudian menarik kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir kontol itu menggelantung.
“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kea rah ku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.”Tunggu giliranmu”.
“Betapa nikmat kalau kontol itu bersarang pada tempikku” kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol. Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka, andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!
“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!” teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri –kanan mengimbangi sentakan PakDhe.
“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda yang diterjang kontol gede itu seolah bersorak senang. Saat ku sedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit kutari tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan, namun diluar kesadaran ku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan mennghentikan ku, yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu. Aku butuh keprluan biologis itu! Aku butuh kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi! Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dab Rifda didepanku, Rifda nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.
‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”
“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si kontol menerobos tempik Rifda.
Kulihat tongkat mainan persis kontol yang diletakkan dimeja oleh Rifda, tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda, kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!
Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini, kali ini aku bermaksud memasukkan kontol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…
“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda setiap PakDhe menarik kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum, sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya. Kukeluarkan pelan-pelan kontol mainan dari dalam tempikku.
Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah kontol besar seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi, yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan kontol, kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku, aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan, aku tak pedulikan itu aku Cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan! Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang kontol laki-laki itu.
“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… kontolmu… auh… Rudi… say… ang… eh… ” Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe. Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan kontolnya kemulut Rifda.
“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ” tampak mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah Pisang yang besar, aku segera bangkit dan menghampiri mereka, yaah aku tak rela jika kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.
“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!” Rifda tertawa setelah kontol dimulutnya terlepas setelah laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak kontol besar setengah mengacum itu mengarah padaku.
“Wao… ” Tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.
“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !” kata Rifda
seolah senang dengan apa yang kuperbuat, kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur, kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,
“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermain kan kontol dengan mulut.
“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.
Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu bahwa mulutku sangat hebat dal;am hal ciuman bibir dan mengulum kontolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.
“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini! “Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala kontolnya, sambil memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.
“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda, matanya
merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya. Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan kontolnya dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe Rudi pelan-pelan menarik kontolnya dari mulutku, yah PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda, aku ragu apakaha aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini, namun PakDhe ternyata langsung menarik pantatku hingga tuibuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan kontolnya berada tepat didepan tempikku, mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan kontol PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit
“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.
“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..” kata PakDhe sambil menarik kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku tertarik.
“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot kontolnya itu keluar masuk. Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat
“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol
luar dalam namun ennaak sekali, sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini, aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku. Saat sibuk menikmati sodokan kontol di tempikku sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat sehingga memudahkan kontol gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya, tak berapa lama Rifda sudah memekik…
“Sudah Rud… aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya. sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu
“Rin… torok… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah” PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan kontolnya ke milikku yang memang masih peret, dia menarik kontolnya dan mengeluarkan pejunya pada Susuku dan wajahku
“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala kontolnya.
“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme! Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan kontolnya yang mulai mengecil, saat kumandang Rudi yang mengocok kontolnya sendiri dia tersenyum padaku dan akhirnya kontol yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku, aku tahu dia ingin posisi anjing nungging, kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi, tak nerapa lama kontol Rudi sudah digesekgesekkan pada pantatku yang putih mulus,
“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku nakal, aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini, akhirnya Rudi pun memasukan kontolnya ke dalam tempikku.
“A… euh… ah… em… ya… ” kontol yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku. Pantas Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.
“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur kontolnya sementara tangannya meremas susuku dan bibirnya mencium punggungku, cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang, kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan kontolnya dari depan
“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ” nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah ku lakukan dengan mantan suamiku dulu. Sensansi yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini, sentakannya sangat mantab dan sodokkan kontolnya sangat luar biasa
“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… kontol… Ter… us… sh… ” kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar biasa dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini. Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…
“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas! Jeritku dalam hati ini kontol yang aku harapkan setiap masturbasi, sementara Rudi tetap mengocok kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,
“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach” akhirnya Rudi menarik kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan Spermanya ke mukaku.
“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.
Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up muka ku yang tampak ceria!
Akhirnya, aku menikmati semua ini, semua kulakukan dengan senang hati. Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan Agatha adalah Teman SMPku, sehingga aku bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.
Garap kakak, garap adik
By sebastian | January 28, 2008
Ini adalah cerita sesungguhnya tapi nama-nama dalam tokoh ini hanya samaran belaka. Bermula dari keluguan saya mengenai wanita dan saya beberapa kali dipermainkan dalam bercinta , timbul dihati untuk membalas sakit hati. Setelah itu saya berfikiran memacari cewek hanya untuk mencari kesenangan dan sex. Sudah beberapa cewek yang menjadi korban, walaupun saya bukan orang yang ganteng sekali dan juga bukan anak orang kaya tapi cewek-cewek yang berhasil saya gaet bukan orang sembarangan, selain cewek yang cantik juga kaya dan mempunyai orang tua yang terpandang. Dan sudah menjadi syarat cewek yang menjadi pacar saya harus sudah pernah tidur dengan saya paling lambat 1 bulan setelah resmi pacaran.
Dari sekian banyak cewek koleksi saya hanya ada satu yang paling menarik perhatian, yaitu Ika, dia berusia 1 tahun dibawah saya dan satu kampus dengan saya. Ika mempunyai body bagus sekali, orangnya putih dan rambutnya hitam sepundak. Walau baru kenal seminggu kami sudah resmi berpacaran, saat itu saya kos didekat kampus dan Ika tinggal di Bogor. Saya sengaja cari tempat kos yang bebas untuk menerima tamu wanita untuk masuk. Pertama kali saya mencium Ika pada saat saya menyatakan cinta dan Ika menerima, sebagai kebahagiannya dia yang mencium saya pertamakali dan saya membalasnya dengan mesra. Setelah pulang dari kampus Ika selalu mampir ke tempat kos dan kami hanya berciuman saja sampai puas, tapi setelah seminggu saya berniat mengembangkan permainan, saat berciuman saya mulai meraba-raba toketnya, awalnya dia menepiskan tangan saya, katanya dia belum pernah toketnya dipegang cowok.
Sementara saya mengalah dengan memindahkan tangan saya dari dadanya, tapi beberapa saat kemudian saya bikin dia betul-2 terangsang dengan ciuman dibibir dan dilehernya dan saya mencoba lagi untuk menjamah toketnya dan kali ini saya berhasil meremas-remas malah sekarang dia yang membantu saya untuk meremasnya kuat-kuat sambil mengerang keenakan . Katanya dia sekarang betul terangsang, segera saja saya buka kemejanya sambil terus menciumnya di bibir terus keleher dan sampai ke dada, saya buka juga BH nya ternyata Ika mempunyai toket yang betul-2 indah dan sepertinya belum pernah ada yang menjamahnya. Lalu saya cium pentilnya yang masih kecil dan coklat itu, dia mulai mengerang lagi dan kali ini lebih keras lagi. Ahhhh ..aaaaahhhh . Bennnn . Enak sekali .. terus Benn jangan berhenti .ini enak sekali . Ternyata Ika sangat terangsang sekali, sambil terus menjilati putingnya, tangan saya terus menjalar kecelana jinsnya dan saya buka ikat pinggangnya, sepertinya Ika sudah tidak perduli lagi mau diapakan dia. Saya terus menciumi dadanya sampai terus turun ke perut, dia semakin mengerang kegelian sambil tangan saya membuka celana dan sekarang dia sudah betul-2 telanjang, saya sempat diam beberapa saat karena terpesona, Ika mempunya body yang bagus sekali dan kulit yang putih bersih serta bulu-bulu mem*k yang halus dan sedikit.
Terus saya menciumi lagi bagian perutnya hingga turun sampai ke selangkangan dan lidah saya mulai menjilati bulu mem*knya, tapi Ika masih merapatkan selangkangannya sambil memandang saya ragu, saya terus berusaha untuk membuka selangkangannya perlahan-lahan. Saya bilang kedia “Kamu enggak usah takut .setiap orang pacaran pasti melakukan kaya gini.” Kata saya sambil merayu.ternyata berhasil Ika mulai merenggangkan selangkangannya dan tampaklah mem*k yang indah dan merah basah serta masih rapat sekali, saya mulai menciumi itilnya, bau khas mem*k semakin membuat saya bergairah menjilati. Sambil terus mengerang kakinya mengejang saat saya jilat itilnya, terus berulang-ulang sampai memakin memburu suara eranggannya. Aaahhh.ahhh..Benn rasanya saya enggak …kuat lagi .aahhhh..Lalu kakinya mengejang keras dan ahhhh…. Ika ternyata sudah mencapai puncaknya, sengaja saya biarkan dia mencapai puncaknya dulu.
Sambil mengatur nafas yang terengah-engah Ika memeluk saya dengan kerasnya. Ben saya belum pernah mengalami hal seperti ini, katanya. Tapi saya terus langsung mencium bibirnya lagi dengan lembut. kont*l saya yang dari tadi sudah mengeras semakin gatal saja, sambil mencium bibirnya saya buka kemeja dan celana, sekarang kami sudah sama-sama tidak mengenakan apa-apa lagi. Saya lalu meremas-2 toketnya yang sekarang sudah mulai mengeras lagi sambil saya bimbing tanganya untuk memegang kont*l saya. Ika mulai mengocok-ngocok kont*l saya, semakin gatal saja rasanya. Lalu saya bilang ” Ika saya masukin yaaa ini saya ke itu kamu”.”Tapi Ben .Ika masih takut “.”Enggak usah takut nanti kalau kenapa-kenapa saya akan tanggung jawab .”. Lalu Ika diam sambil memeluk saya, saya pegang lagi mem*knya ternyata sudah basah, dan terus mengarahkan kont*l saya ke lobang mem*knya. Begitu sampai di bibir mem*k saya menggoyang kepala kont*l biar kena lendir yang keluar dari mem*k supaya gampang masuknya. Saya mulai mendorong masuk kepala kont*l kedalam mem*k, Ika memejamkan mata sambil menggigit bibirnya menahan sakit, mem*knya masih sempit sekali sehingga saya pun susah memasukkannya, tapi sedikit demi sedikit mulai masuk kepala kont*l saya kedalam mem*knya Ika. Pelukkannya semakin kencang.”Bennn ahhh…sakit sekali.”.”Enggak apa-apa pelan-pelan saja.. nanti kalu sudah masuk pasti enggak sakit lagi..”kataku. Kepala kont*lku terus sedikit demi sedikit saya dorong keluar masuk, walau baru kepala kont*lku yang masuk saya merasa ada sesuatu yang mengganjal kepala kont*l untuk masuk, saya yakin pasti itu selaput dara yang masih utuh dan keras. Lalu dengan sedikit dorongan lagi akhirnya kont*lku masuk ke dalam mem*knya. Ika lebih mengencangkan pelukannya sambil menangis,”Ben …kamu sekarang sudah memiliki saya sepenuhnya”.”Ya”, kataku. Sepertinya rasa nyerinya sudah mulai hilang, saya mulai menarik keluar masuk kont*l di dalam mem*knya Ika, rasanya enak sekali, dan Ika pun mulai menggoyangkan pantatnya terus menerus.
Sampai lebih dari 10 menit Ika mulai mengerang keras lagi “Ben ….kayanya saya mau keluar lagi …”.”Sama ….Ka…saya juga udah mau ….mau…mau….ahhhh ” Belum sempat berkata lagi Ika sudah kejang sambil memejamkan mata dan saya merasa mem*knya sudah banjir didalam, saya sendiri juga menambah cepat gerakan, dan akhirnya saya juga sampai.”Aaahhhh….Ka….saya juga sudah ..sampai” Crott …crott…crott..air mani saya keluarkan didalam mem*knya Ika.
Lemas rasanya…. masih posisi menindih Ika, kami berpelukan dan kont*l saya masih tetap berada didalam mem*knya Ika.
Semenjak itu kami sering sekali melakukannya, dan semakin hari Ika semakin pandai sekali melakukannya. Belum pernah bosan saya sama cewek satu ini, kalau dengan cewek lain saya pacaran hanya beberapa bulan, tapi dengan Ika sekarang sudah berjalan 4 tahun.
Terus terang saja kalau yang namanya ngent*t saya memang paling gila, enggak pandang siang - malam, dimana saja kalau sudah bertemu Ika saya pasti minta dilayaninya dan Ika juga enggak pernah mengecewakan saya. Sekarang saya dan Ika sudah bertunangan, masing-2 keluarga sudah saling mengenal. Ika anak pertama dan adiknya juga cewek namanya Julie, Julie sudah menganggap saya sebagai kakak, sehingga dia dekat sekali dengan saya. Sekarang Julie kelas 3 SMU tapi dia belum punya pacar karena enggak boleh pacaran dulu sebelum kakaknya menikah.
Beberapa bulan yang lalu saya melakukan yang biasa saya lakukan sama Ika tapi kali ini Julie adiknya Ika. Saya juga enggak tahu kenapa bisa sampai melakukannya sama Julie. Ceritanya begini…Beberapa bulan kemarin Julie beberapa kali bolos sekolah sehingga dia mendapat surat dari guru untuk dikasihkan keorang tua , dia sangat takut sekali kalau sampai dimarahi, kebetulan saya lagi datang kerumah Ika tapi ternyata Ika tidak ada karena sedang kekampus hanya ada Ibunya saja yang berada dirumah , Begitu Jullie sampai dirumah langsung surat dari guru diberikan keibunya . Marah sekali Ibunya begitu membaca surat tersebut. Julie menangis dikursi ruang tamu tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena terlalu kesal akhirnya ibunya pergi yang kebetulan mau pergi arisan. Sambil terisak-2 Julie saya nasehatkan supaya tidak membolos lagi, dia terharu sekali sampai akhirnya dia memeluk saya dan saya bun membelai rabutnya dengan sayang seperti kakak dan adiknya, tapi enggak tahu kenapa begitu memeluk Julie tiba-2 burungku jadi mengeras dan berhasrat sekali untuk melakukan sesuatu, sambil memeluk saya cium pipinya terus sampai kebibir, yang tadinya menangis terisak-2 sekarang mulai berhenti dan sepertinya malah menikmati ciuman saya. Saya yakin Julie memang belum pernah punya pacar apalagi dicium cowok. Terus saya cium dia sambil memainkan lidah, dia semakin terangsang dan memejamkan matanya, sementara tangan saya membuka kancing baju seragamnya, ohhhh….indahnya toketnya masih sangar segar .saya mulai mencium pentil toketnya dan terdengan bunyi erangannya aaahh….aaahhhhh.. Kak jangan Teruskan…..kasihan kak Ika ….katanya sambil gemetar, tapi saya sudah tidak memperdulikan lagi omongannya , saya tetap terus menjilati pentil toketnya kiri dan kanan bergantian, erangannya semakin bertambah keras . Kak…geli aaahhhh .. aaaahhhh . Sambil ikut memegang toketnya sendiri dia menggoyang-2kan. Tangan saya terus pindah dari dada ke pahanya, karena memakai rok sekolah jadi saya bebas meraba semua bagian pahanya yang putih. Saya terus mengisep toketnya sambil tangan kanan menyibakkan roknya , begitu saya pegang celana dalamnya sudah basah, terus saya masukkan tangan kedalam celana dalamnya.. Kak ..jangan kak …. aaahhhh …. walaupun dia takut tapi sepertinya tidak kuasa untuk menahan rangsangan yang hebat. Akhirnya saya buka juga CD nya sehingga kelihatan bulu-bulu jembutnya yang hitam justru lebih banyak dari kakaknya Ika.
Tangan kanan saya mulai menggesek-gesekkan ke itilnya , Julie semakin berteriak keenakan, saya lepaskan pelukannya dan pindah kebagian bawah, terus saya cium mem*knya yang merah dan bau yang enak sekali, lidah saya mulai menjilati itilnya dan kakinya mengejang setiap kali lidah saya menyentuh itilnya sambil mengerang ..kak enak kak….terusin kak..enak.. Sampai beberapa menit saya terus menjilati itilnya keringetnya mulai keluar saya tahu pasti engga lama lagi mau sampai puncaknya makanya saya juga enggak mau nunda-2 waktu takut ketahuan, saya buka celana saya terus mengeluarkan kont*l yang dari tadi udah keras langsung aja saya masukkin kemem*knya hanya dengan sekali dorongan langsung masuk semua bersamaan dengan itu Julie merintih kesakitan….. Kak sakit sekali .. . Kak …. Aduhhhh .. sakit langsung air matanya meleleh…Sudah sebentar lagi juga enggak sakit kok bujukku….. lalu saya teruskan menggoyang pantat mendorong keluar masuk kont*lku di mem*k yang sempit ini, rasany ada yang mijit-2 didalam mem*k….kak …Julie udah mau ngeluarin nih ahhhh .aahhahh, langsung kakinya mengejang dan mengencangan pelukan itu tandanya dia sudah sampai puncaknya, tapi saya belum…masih tanggung, saya mempercepat gerakan sampai akhirnya saya juga seperti sudah mau mengeluarkan..aahhh…..aahhhh…..aahhhh crot….crot…..crot…..akhirnya saya mengeluarkan juga didalam mem*knya Julie . keringat sudah bercucuran membasahi kaos ..Langsung saya minta Julie buru-buru membersihkan mem*knya jangan sampai ada air mani saya yang ketinggalan, buru-buru Julie ke kamar mandi, begitu dia bangun dari sofa tempat bercinta tadi saya lihat ada noda darah pasti itu darah perawan Julie calon adik iparku. Setelah memebersihkan darah disofa saya terus tidur di sofa itu seolah tidah pernah terjadi apa-apa. Beberapa jam kemudian Ika pacarku pulang dari kampus dan membangunkan ku dengan ciuman yang mesra……
Sampai sekarang ini menjadi rahasia saya berdua dengan Julie karena dia tidak mau hubungan saya dengan kakaknya hancur.
Mona
Mona ini orangnya seksi sekali. Bukan berarti dia sering pakai baju seksi atau bicara yang nyerempet-nyerempet hal begituan, tapi tidak tahu kenapa kalau saya sedang berada dalam satu ruangan dengan dia, selalu pikiran saya membayangkan hal-hal yang erotik tentang dia yang saya tidak pernah terpikirkan sama wanita lain.
Tubuhnya sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi, tapi proporsional. Dan kalau orang sekarang bilang, body-nya bahenol dan tetap jelas lekuk-lekuk tubuhnya tampak bila dia berpakaian. Rambutnya panjang sebahu dengan payudara yang sedikit lebih besar dari rata-rata, dan mengacung ke atas.
Suatu ketika saya sedang main ke rumah Alex, Ayah Mona sedang membetulkan mobilnya di kebun depan rumah Mona. Kami semua berada di situ melihat ke dalam mesin mobil tersebut. Saya berdiri persis kebetulan di sebelah Mona. Dia berada di sebelah kanan saya. Pada waktu itu Mona memakai baju jenis baju tidur, berbentuk celana pendek dan baju atasan. Warnanya biru muda sekali sampai hampir putih dengan gambar hiasan bunga-bunga kecil yang juga berwarna biru muda.
Lengan bajunya lengan buntung, dan pas di pinggir lengan bajunya di hiasi renda-renda berwarna putih manis. Bajunya karena itu pakaian tidur jadi bentuknya longgar dan lepas di bagian pinggangnya. Bagian bawahnya berupa celana pendek longgar juga, sewarna dengan bagian atasnya dengan bahan yang sama.
Semua melihat ke dalam mesin mobil sehingga tidak ada yang melihat ke arah saya. Pada saat itu lah saya melirik ke arah Mona dan melihat payudara Mona dari celah bawah ketiaknya. Perlu diingat bahwa tinggi badan saya pada umur itu persis sepayudara Mona. Dia tidak menggunakan BH waktu itu. Puting susunya yang coklat dan mengacung kelihatan dengan jelas dari celah itu karena potongan lengan bajunya yang kendor. Hampir seluruh payudara Mona yang sebelah kiri dapat kelihatan seluruhnya. Tentu saja dia tidak sadar akan hal itu.
Suatu ketika ada juga saat dimana kami sedang bersama-sama melihat TV di ruang tamu. Saya duduk di sofa untuk satu orang yang menghadap langsung ke TV. Dan Mona duduk di sofa panjang di bagian sebelah kiri dari TV di depan kiri saya. Saya dapat langsung melihat TV, tapi untuk orang yang duduk di sofa panjang itu harus memutar badannya ke kiri untuk melihat TV, karena sofa panjang tersebut menghadap ke arah lain.
Mona akhirnya memutuskan untuk berbaring telungkup sambil melihat TV karena dalam posisi tersebut lebih mudah. Dia memakai baju tidur berupa kain sejenis sutera putih yang bahannya sangat lemas, sehingga selalu mengikuti lekuk tubuhnya. Baju tidur ini begitu pendek sehingga hanya cukup untuk menutupi pantat Mona. Bagian atasnya begitu kendor sehingga setiap kali tali bahunya selalu jatuh ke lengan Mona dan dia harus berulang-ulang membetulkannya.
Dalam posisi telungkup begitu baju tidurnya pun tersingkap sedikit ke atas dan menampakkan vagina Mona dari belakang. Kebetulan saya duduk di bagian yang lebih ke belakang dari pada Mona, jadi saya dapat melihat langsung dengan bebasnya. Semakin dia bergerak, semakin bajunya tersingkap ke atas pinggulnya. Mona pada saat itu tidak memakai pakaian dalam sama sekali, karena kebetulan rumah sedang sepi dan sebetulnya itu waktu tidur siang.
Kadang-kadang pahanya merenggang dan vaginanya lebih jelas kelihatan lagi. Mona agaknya tidak perduli kalau saat itu saya sedang berada di situ juga. Sesekali dia bangun untuk ke dapur mengambil minum, dan sekali ini tali bajunya turun lagi ke lengannya dan menampakkan sebagian payudara kiri Mona. Kali ini dia tidak membetulkannya dan berjalan terus ke arah dapur.
Karena banyak bergerak dan membungkuk untuk mengambil sesuatu di dapur, akhirnya payudara kirinya betul-betul tumpah keluar dan betul-betul kelihatan seluruhnya. Sambil berjalan balik dari dapur, Mona tidak kelihatan perduli dan membiarkan payudara kirinya tetap tergantung bebas. Sesekali dia betulkan, tapi karena memang baju tidurnya yang belahan dadanya terlalu rendah, akhirnya turun lagi dan turun lagi. Dan setiap kali payudaranya selalu meledak keluar dari balik bajunya, kalau tidak yang sebelah kanan yang sebelah kiri. Mona tetap kelihatan seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun satu payudara terbuka bebas seperti itu.
Mona kembali berbaring telungkup di sofa panjang melihat ke arah TV. Sekarang payudara kanannya yang tergantung bebas tanpa penutup. Setelah beberapa lama dan menggeser-geser posisinya di atas sofa, sekarang baju tidurnya sudah tidak rapi dan terangkat sampai ke pinggulnya lagi. Karena posisi pahanya yang sekarang tertutup, saya hanya dapat melihat sebagian bawah pantat Mona yang mulus dan sexy.
Mona menggeser posisinya lagi, dan sekarang tali baju yang sebelah kiri turun. Sekarang kedua payudaranya bebas menggantung di tempatnya tanpa penutup. Dari posisi saya tentunya hanya dapat melihat yang bagian kanannya karena saya duduk di bagian kanan. Mona balik lagi ke dapur untuk yang kesekian kalinya mengambil minum dan tetap membiarkan payudaranya terbuka dengan bebas. Dan balik lagi telungkup melihat TV.
Saya mencoba mengajaknya mengobrol dalam posisi itu. Tentu saja tidak mungkin karena dia menghadap ke arah TV. Pertama-tama dia ketahuan sedang malas diajak ngobrol dan hanya terlihat ingin melihat TV. Karena saya tetap bertanya-tanya ini itu ke dia, akhirnya dia pun mulai menanggapi saya.
Suatu ketika karena dia harus menghadap saya tetapi malas duduk, akhirnya dia membalikkan diri ke arah kanan untuk menghadap ke saya. Pada saat itu lah vaginanya terlihat dengan sempurna terpajang menghadap saya. Perlu diketahui, payudara Mona masih tetap tergantung bebas dan padat tanpa penutup karena dia tidak repot-repot lagi membetulkan letak tali bajunya.
Baju tidur Mona terangkat lagi sampai ke pinggul. Dan dia tetap ngobrol seperti seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Cukup lama juga kami ngobrol dengan posisi dia seperti itu. Kadang-kadang malah kakinya mengangkang menampakkan vaginanya. Dan dia tetap bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa dan tetap berbicara biasa.
Akhirnya saya tidak kuat lagi. Suatu saat, pada saat dia mengambil makanan dari atas meja dan posisinya membelakangi saya, vagina Mona mengintip dari celah pahanya dari belakang tepat 1-2 meter di depan wajah saya. Saya buka retslueting saya yang dari tadi sudah berisi penis yang sudah keras tidak kepalang tanggung, dan mengeluarkannya dari celana dalam saya.
Dari belakang saya menghampiri Mona perlahan. Pada saat ini dia masih belum tahu dan masih tetap memilih-milih makanan, sampai terasa ada tangan yang memegang kedua payudaranya dari belakang dan merasakan ada benda panjang, besar dan hangat menyentuh-nyentuh di sela-sela paha dan belahan pantatnya.
Mona terkejut. Saya tetap meremas dan memainkan kedua payudara Mona dengan kedua tangan saya dan mulai perlahan-lahan menyelipkan penis saya ke dalam vaginanya. Vagina Mona selalu basah dari pertama karena dia dapat menjaga situasi dirinya sehingga tetap basah walaupun pada saat-saat dia tidak nafsu untuk bermain sex. Penis saya masuk ke dalam Vagina Mona dari belakang. Mona melenguh tanpa dapat berbuat apa-apa karena semuanya berlangsung begitu cepat. Tangannya bertumpu ke atas meja makan.
Mungkin dia bertanya-tanya juga dalam hati, ini anak SD tapi nafsunya sudah seperti orang dewasa. Saya mulai membuat gerakan maju mundur sambil tangan saya masih meremas-remas payudaranya. Mona terdorong-dorong ke meja makan di depannya, payudaranya bergoyang-goyang seirama dengan dorongan penis saya ke dalam vaginanya. Kaki Mona dalam posisi berdiri mengangkang membelakangi saya.
Akhirnya saya klimaks. Sperma demi sperma menyemprot dengan kuatnya ke dalam vagina Mona, sebagian meleleh keluar dari dalam vagina ke bagian paha dalam Mona yang masih berdiri mengangkang membelakangi saya. Setelah semprotan terakhir di dalam vagina Mona, kami masih berdiri lemas tanpa merubah posisi. Kepala saya lunglai ke depan, kepala Mona juga, napas kami terengah-engah, dan keringat banjir membasahi tubuh kami.
Akhirnya saya menarik penis saya keluar dari vagina Mona, dan kembali memasukkannya ke dalam celana dalam dan menarik kembali retslueting ke atas. Mona masih terengah-engah dalam posisi yang belum berubah bertumpu dengan kedua tangan ke atas meja makan. Vagina dan belahan pantatnya masih terpajang bebas bergerak seirama dengan desah napasnya.
Saya kembali duduk di depan TV, dan Mona kembali ke sofa panjang tempat tadi dia berbaring, tapi sekarang dia tidak telungkup, melainkan duduk tanpa membetulkan letak dan posisi bajunya atau membersihkan bekas-bekas sperma dan keringat yang ada di sekujur tubuhnya.
Mona duduk bersandar rileks dan vaginanya terlihat terpajang dengan jelas karena posisi duduknya yang terbuka lumayan lebar. Matanya setengah terpejam tergolek di atas sandaran sofa. Tangannya lunglai di samping badannya. Napasnya masih terengah-engah. Dia melirik sedikit ke arah saya dan tersenyum. Saya pun tersenyum nakal padanya bagaikan normalnya anak umur 13 tahun. Dan dia berdiri berjalan masuk menuju ke kamar tidurnya.
Mona ini kalau lagi merasa sendirian di rumah memang betul-betul cuek. Pada saat lain dimana saya sedang main ke rumah Alex tapi Alexnya belum pulang sekolah, Mona kerap kali memakai baju semaunya dan sangat minim tanpa repot-repot pakai pakaian dalam. Kadang-kadang hanya memakai T-shirt sebatas pantat yang kebesaran dan longgar tanpa pakai apa-apa lagi, dan sudah kebiasaan Mona kalau duduk posisinya tidak rapi, sehingga pinggul dan selangkangannya seringkali merenggang dan menampakkan vaginanya yang segar dan basah.
Kadang-kadang dia hanya memakai gaun tidur putih 'backless' tipisnya yang mini dengan belahan dada rendah sebatas puting, sehingga puting susunya seringkali nampak mengintip keluar. Atau mondar-mandir hanya memakai kimono handuk hijau mudanya sebatas paha. Dan kalau pakai kimono begitu dibiarkannya tali pinggangnya tidak diikat hingga bagian depannya tubuhnya terbuka. Jalan ke dapur atau duduk nonton TV di sofa tanpa membenarkan letak kimononya, atau makan siang setengah telanjang. Dan Mona sudah biasa begitu jika merasa tidak ada orang di rumah. Vaginanya selalu bebas tanpa penutup.
Ada kalanya dimana dia baru pulang sekolah dan masih berbaju SMA putih abu-abu. Semasuknya di rumah yang pertama dilepas adalah celana dalam dan BH-nya dulu. Dan itu dilakukannya dengan ekspresi seperti dia sedang melepas sepatu dan kaos kakinya, yaitu di ruang tamu, dan di depan mata saya.
Pernah celana dalam dan BH-nya dilempar ke arah wajah saya sambil dia tertawa bercanda, atau biasanya dilemparkan saja semaunya di lantai. Terus biasanya dia kemudian makan siang sambil nonton TV dengan baju OSIS SMA-nya ditambah payudaranya yang montok padat berisi dan terkocok-kocok jika Mona bergerak dengan puting susunya yang tercetak jelas. Biasanya penis saya perlahan-lahan mengeras.
Kalau lagi tidak tahan, tanpa basa basi saya buka retslueting celana, keluarkan penis, angkat rok SMA-nya sampai ke pinggang, tidak perduli dia sedang melakukan apa dan memasukkan penis saya tanpa minta ijin dia dulu. Biasanya sih dia kaget, tapi tidak berkata apa-apa sambil mulai menikmati gerakan penis saya mengaduk-ngaduk vaginanya.
Setelah sperma saya tumpah di dalam, dia pun kembali meneruskan apapun aktivitasnya yang sempat terhenti oleh sodokan penis saya. Malah seringkali sepertinya aktivitas Mona tidak terganggu dengan adanya gesekan penis tegang dalam vaginanya. Karena pernah suatu waktu dia masak di dapur dengan telanjang bulat karena mungkin pikirnya tidak ada orang di rumah.
Selagi dia masih menghadap ke arah kompor, pelan-pelan dari belakang saya menghampiri dengan penis teracung. Perlahan-lahan saya selipkan penis berat saya yang sudah keras di antara celah selangkangannya dari belakang.
Dia kaget dan menengok sebentar, dengan suaranya yang khas dan nada cuek biasanya dia hanya bilang, "Eh kamu..!"
Kemudian secara refleks dia melebarkan posisi antara kedua kakinya, sedikit menunggingkan pantatnya dan membiarkan saya bermain dengan payudaranya dan melanjutkan memasukkan penis saya dari belakang dan menyantapnya sampai selesai.
Memang karena badan saya yang masih setinggi bahunya, setiap kali saya harus naik ke kursi agar dapat memasukkan penis saya ke dalam vagina Mona. Dan itu saya lakukan 'anytime-anywhere' di rumahnya selama hanya ada Mona sendiri di rumah.
Sepertinya Mona begitu merangsang karena pakaiannya dan cara dia menempatkan posisi tubuhnya yang seakan-akan selalu menyediakan vaginanya yang segar, bersih, sehat, basah dan berlendir itu 24 jam buat limpahan sperma dari penis saya yang bersih, besar, berat dan panjang (walaupun waktu itu saya masih di bawah umur) ini di dalamnya. Mungkin ini yang membedakan dia dengan remaja-remaja perempuan lainnya.
cerita 17 tahun cerita dewasa cerita cerita sex cerita seks cerita cerita seks cerita panas cerita seru cerita lucah indonesia cerita dewasa cerita sedap cerita perkosaan cerita sex melayu cerita seks melayu cerita porn 17 tahun 17tahun seks cerita koleksi seks cerita melayu seks gambar seks siswi smu bugil bugil gadis bugil model indonesia bugil foto bugil indonesia bugil foto 20 bugil foto agnes bugil artis bugil artis indonesia bugil gambar artis melayu bogel gambar melayu gambar bogel gadis melayu gambar lucah pramugari seks teen seks video cerita melayu seks indonesia cerita dewasa gambar bogel gambar janda bogel gambar lucah dewasa cewek bugil mahasiswi bugil model bugil
Gita Mahasiswi Plus
Setelah gita menyetujuinya ia menyuruh wanita muda tadi untuk membawa gita,"susan, coba kamu bawa gita berkeliling "sambil berkeliling memperlihatkan fasilitas panti pijat itu, susan juga mengingatkan jika terkadang ada klien yg permintaannya aneh aneh, bahkan sampai bondage.Mendengar cerita susan, gita kembali ragu, namun ia sudah terlanjur masuk ia bertekad akan menjalani semua ini.Gita sebenarnya gadis yg cukup cantik , meski nasibnya tak seindah wajahnya, wajahnya yg "innocence" membuat gemas banyak pria, rambut sebahu , buah dada 32B, dan pantatnya yg bulat sempurna, dengan penampilan seperti itu, bahkan gita lebih terlihat sebagai pelajar sma dibandingkan mahasiswi.
Gita kemudian dibawa ke sebuah ruangan dimana telah menunggu seorang pria usia 30 tahunan."dia pemilik panti pijat ini....namanya oom bob" kata susan.Susan kemudian berbicara sejenak dengan bob , lalu meninggalkan gita berduaan disana."halo...saya bob....panggil saja oom bob...." kata bob sambil mengulurkan tangannya"gita, oom..." jawab gita menyambut uluran tangan bob.Bob tidak segera melepaskan genggaman tangannya, ia menatap gita bagai sedang menaksir sebuah karya seni."ok kalau begitu..." katanya kemudian sambil melepaskan jabatan tangannya.Bob kemudian melepaskan satu persatu pakaiannya, sehingga ia telanjang bulat.
Penisnya kelihattan cukup besar, setidaknya membuat gita agak tercekat."nah gita..coba urut punya oom......"kata bob.gita perlahan mendekat dan berlutut d antara kaki oom bob, kedua tangannya menggenggam penis bob, dan dengan gerakan yang teratur ia mulai memijit penis bob, naik turun.Bob terlihat tersenyum dan puas dengan pijitan gita,"coba pake mulut ....." perintahnya gita dengan patuh memasukkan penis itu ke dalam mulutnya, dan menyusuri penis tersebut maju mundur dengan bibirnya, suara geraman dan kocokan berirama mengiri semua nya."uughh...you are....uughhh...." bob menggeram sambil meremas rambut gita sampai acak acakan.Gita terus melakukan oral dengan santai, ia sering melakukannya dengan mantan pacarnya dulu.sampai beberapa lama akhirnya , penis oom bob menyemburkan cairannya, oom bob menahan kepala gita agar seluruh spermanya tertelan oleh gadis itu."hahahah..bagus..bagus...kamu berbakat juga ternyata.......hahahaha...kamu diterima......"kata oom bob senang.Gita masih berlutut dilantai dan tertunduk malu, kini sudah tak mungkin lagi untuk kembali.
Sabtu malam adalah malam pertama gita menjalani pekerjaanya sebagai massage girl. "anak anak....pak burhan sudah datang...." kata tante mirna sambil mengantar seseorang yg wajahnya sepertinya gita kenal, pak burhan adalah salah seorang pejabat pemerintah, dan wajahnya sering muncul di televisi menyuarakan gerakan moral , sangat bertolak belakang dengan apa yg dia lakukan sekarang.Sebagai pelanggan tetap tempat itu, mata pak burhan langsung menangkap barang baru di tempat itu.Tak mempedulikan godaan para perempuan lain , ia mendekati gita."hai...gadis manis....kamu siapa....?" tanya pak burhan...."ehh..gita ..ehh..oom...."jawab gita"baru ya disini....." tanya pak burhan"ini emang hari pertamanya dia oom..." susan yg menjawab ditimpali dengan anggukan kepala gita. "ooh.....bagus..ayo.....langsung ke dalam...oom udah pegel pegel nih..." kata pak burhan sambil menarik tangan gita masuk ke sebuah kamar.Gita sedikit senang dan gugup menghadapi pelanggan pertamanya."oom mau mandi dulu..?" tanya gita"ga usah...langsung aja...."kata pak burhan sambil melepaskn seluruh pakaiannya, sementara gita merapikan tempat tidur dan baby oil."loo..kok bajunya ga dibuka..." kata pak burhan ketika melihat gita berdiri di sisi ranjang masih berpakaian lengkap.
"oom bukain ya..." kata pak burhan sambil membuka satu persatu kancing baju gita, dan melemparkan jatuh blouse gita, sambil melepas bra gita , pak burhan menyempatkan meremas sejenak buah dada gita yg menggiurkan itu, barulah ia kemudian melepas rok dan dalamn gita, sehingga gita pun kini tealnjang bulat.Pak burhan lalu berbarin telungkup di ranjang , dan gita mulai melakukan pemijatan. Saat gita meratakan baby oil di punggung pak burhan dan memijat, pak burhan dengan santai mengajaknya mengobrol banyak hal, sehingga suasananya cukup cair., pak burhan tak henti henti memuji pijatan dan sentuhan gita.Kemudian pak burhan membalikkan badan, penisnya tegak tegang perkasa."pijat refleksinya dong ...." kata pak burhan sambil tersenyum, gita mengerti maksudnya.Gita mulai memijat mijat penis pak burhan, sementara pak burhan aktif meremas remas buah dada gita,gita memijat, dan mengocok makin kuat saat rangsangan di buah dadanya membuatnya semakin terbang melayang.Gita kemudian menggantikan tangan dengan mulutnya, penis besar pak burhan kini memenuhi mulutnya,dengan mulutnya ia menghisap dan bergerak naik turun menyusuri panjang penis itu.
"uagghhhh..gila....hebat kamu......" kaya pak burhan terlihat puas gita terus mengocok, mengulum , dan menjilat penis itu sehingga membuat pak burhan semakin terbuai oleh kenikmatan.Tak butuh waktu lama sampai penis itu semakin mengang dan mengejang dan akhirnya menyemburkan seluruh isinya, gita membersihkan sisa sisa sperma dengan menjilatinya, membuat pak burhan semakin tertawa puas, ia pun memberi tip yang cukup besar.Malam pertama gita , ia harus melayani 6 orang tamu, namun hasil yg didapatkan cukup lumayan, ia tak akan menyesali keputusannya terjun ke dunia seperti ini.Malam mingu berikutnya, tante mirna menyuruh gita untuk memakai seragam sma, karena ada pelanggan yg menginginkan dipijat oleh gadis sma.Dengan wajah polos gita, tak sulit bagi gita untuk menjelma menjadi gadis sma.
Malam itu gita memakai kemaja putih sma ketat dengan dua kancing atasnya dibuka, dan rok abu abu pendek, dibaliknya ia tak memakai apa apa lagi.pukul 9 malam, pelanggan itu tiba, dan langsung terpana melihat kecantikan dan kemolekan gita yang terbalut seragam sma.Pelanggan yang dimaksud ternyata adalah pak chandra, ia adalah salah seroang konglomerat papan atas indonesia, beberapa hari lalu ia baru lolos dari tuduhan korupsi , maka hari ini ia ingin merayakannya."halo..saya chandra.....kamu pasti gita..?""betul oom...."'yukk...." pak chandra tak sabar membawa gita ke kamar."oom...mau mandi dulu......" tanya gita"iya..tapi kamu lihat ya...." kata pak chandra sambil mencolek buah dada gita.Pak chandra pun mandi dengan pintu terbuka agar gita bisa melihatnya, dan ia meminta gita selagi ia mandi, gita harus melakukan rangsangan sendiri.Dan begitulah, sambil pak chandra di kamar mandi, gita mengelus ngelus pahanya sendiri sampai ke pangkal paha, menyibakan rok pendeknya, kemudian tangannya meremas remas buah dadanya sendiri sambil mengerang dan merintih.."aahhhhh...awww,,,aauuhhh........ahhhhhhhh.... ."ia membuka satu persatu kancing bajunya , memperlihatkan buah dadanya , meremasnya kembali dan memainkan putingnya."oooooh........aaaahhhhh...ooouuhhhhh......awwww.. ....."entah karena ia terangsang atau menjiwai , ia tak menyadari pak chandra mendekatinya, ia baru menyadari saat penis pak chandra sudah ada di depan mulutnya, tanpa membuang waktu sedetik pun , penis tersebut telah masuk ke mulut gita.
Gita mulai memaju mundurkan kepalanya, memberikan sensasi kenikmatan pada penis pak chandra.Gita memainkan jurus jilatan dan hisapan mautnya , sampai akhirnya sperma pak chandra menyembur masuk ke mulutnya....'huhuhu..bagus..bagus..." kata pak chandra,pak chandra kemudian menerkam dan menindih tubuh gita, buah dada gadis itu diremas dan disedot sedotnya bagai bayi, membuat gita mengerang dan merintih..."oooooh....oom......pelan....oom.......ahhhhhhhh.. awhhhhh...."pak chandra kemudian menyusuri lekuk lekuk tubuh gita dengan lidahnya, menimbulkan sensasi geli dan birahi pada gita."ooh....hihii..awahhh..geliii..aww.....oom....ahhh ....oom......."gita semakin menggelinjang tak karuan saat sapuan lidah pak chandra mencapai klitorisnya, birahinya kini sudah hampir mencapai puncaknya.Puas menjilati dan meng "obok obok" tubuh gita , pak burhan menyuruh gita untuk bersiap dlm posisi doggy style.Setelah bersiap pada posisinya, dengan lembut dan perlahan pak chandra mulai memasukan penisnya,dan mendorongnya perlahan, namun kian lama kian cepat.
Sambil menggenjot gita, tangan pak chandra tidak menganggur, buah dada gita yg menggantung ia remas remas, bebrapa kali pantat gita ia pukul sampai memerah."aww...oom.......uuhhhh...pe...aahh..lan.......don g...ahhhhh..."setiap sodokan pak chandra membuat gita semakin dekat pada orgasme, ia membenamkan wajahnya di bantal menahan suara rintihan dan erangan kenikmatan dari mulutnya."uughh.....gita...uughhh..kamu....hebat....ahhh... ." geram pak chandra keduanya menggeram dan mengerang menambah erotis suasana ruangan itu, smpai akhirnya keduanya bersamaan mencapai orgasme...."aaaaaaaahhhhhh....aahhhhhhh..." gita berteriak panjang lengan dan lutut gita melemah membuatnya ambruk di kasur dengan tubuh pak chandra diatasnya, dengan penis masih menancap, malam itu mereka akhiri dengan mandi bersama, di kamar mandi pak chandra masih sempat menyetubuhi gita dengan posisi berdiri, membuat seluruh tenaga gita habis malam itu.Tips dari pak chandra adalah yg paling besar dari semua tips yg ia terima, hal yg layak ia terima mengngat ia harus bekerja sangat keras, untunglah tante mirna mengerti keadaanya dan menyuruh gita beristirahat dan tidak menerima tamu dulu.Pak chandra dan pak burhan menjadi langganan tetap gita disana, mereka berdua tak mau dilayani siapa pun kecuali gita.
Sampai pada akhirnya pak burhan ingin memiliki gita hanya untuk miliknya, ia menebus gita dari tante mirna , dan menjadikan gita sebagai simpanannya sampai sekarang.Hal itu menjadi berkah tersendiri bagi gita, kini ia tak lagi khawatir akan kehabisan uang , rumah dan mobil pun kini ia punya, meski jauh dalam hatinya ia berharap ia bisa hidup normal dan menjalani kehidupan bekeluarga seperti halnya orang lain.....hanya saja...entah kapan..........
cerita 17 tahun cerita dewasa cerita cerita sex cerita seks cerita cerita seks cerita panas cerita seru cerita lucah indonesia cerita dewasa cerita sedap cerita perkosaan cerita sex melayu cerita seks melayu cerita porn 17 tahun 17tahun seks cerita koleksi seks cerita melayu seks gambar seks siswi smu bugil bugil gadis bugil model indonesia bugil foto bugil indonesia bugil foto 20 bugil foto agnes bugil artis bugil artis indonesia bugil gambar artis melayu bogel gambar melayu gambar bogel gadis melayu gambar lucah pramugari seks teen seks video cerita melayu seks indonesia cerita dewasa gambar bogel gambar janda bogel gambar lucah dewasa cewek bugil mahasiswi bugil model bugil
Pesta di rumah Ita
Semester kami baru saja berakhir, dan pesta ini untuk merayakan itu. Hampir semua mahasiswa Indonesia diundang ke pesta ini di rumah Ita. Ita memang anak orang kaya dan orang tuanya membelikan dia sebuah rumah ketika dia memutuskan untuk meneruskan sekolah di sini. Sedangkan aku, hidup pas-pasan saja, tinggal di sebuah apartemen mungil di dekat sekolah. Meskipun menurutku, apartemen itu lebih enak dan mudah diurus, toh yang datang biasanya hanyalah Ita, atau cowok-cowok ku. Ya, sejak aku kehilangan keperawananku tak lama setelah tiba di sini, aku jadi sering uring-uringan seperti ketagihan seks. Sebagai akibatnya, aku sering mengundang cowok-cowok, baik orang Indonesia, atau bule, untuk ke apartemenku berhubungan seks. Untuk menjaga reputasi dan nama baik-ku, aku hanya tidur dengan 3 cowok indonesia yang kupercaya bisa tutup mulut, dan aku malah lebih sering tidur dengan orang bule yang baru sekali bertemu.
Malam itu aku memutuskan untuk mengenakan baju yang seksi, karena Ita menyuruhku untuk menemani Tom. Tom adalah orang bule yang sering bergaul dengan orang-orang Indonesia, dia juga sekelas denganku di universitas. Orangnya ganteng, dan kudengar dia memang menaruh hati pada Ita, tetapi Ita sudah punya cowok, dan hubungan mereka sudah serius, jadi Ita memintaku untuk mengalihkan perhatian Tom darinya.
Setelah memilih-milih baju dari lemariku, aku mulai mengenakan celana dalam G-string yang berenda-renda, dengan rok mini hitam, tube top pink tanpa bra. Tak lupa pula aku mengenakan anting hadian ulang tahun dari orang tuaku, dan sebagai aksesori terakhir yang kubawa, beberapa kondom. Aku tidak tahu apakah Tom bebas dari penyakit menular atau tidak, dan aku pun tidak ingin mengambil resiko tertular.
Sesampainya aku di rumah Ita, aku langsung mencari Ita untuk lapor diri dan mengucapkan selamat ultah.
"Vanessa, Tom masih belum nyampe tuh, ntar kalo gua ngeliat dia gua panggil elu deh," kata Ita.
"OK. gua mau nyari minuman dulu deh. Happy birthday, yah!" ujarku sambil ngeloyor pergi mencari minum.
Aku mulai berjalan ke arah wet bar yang ada di rumah Ita, ketika aku bertemu dengan Indra, tak sengaja aku menubruk dia ketika dia keluar dari WC.
"Ouch.. sori nih. Eh, Vanessa, udah lama engga ketemu," kata Indra sambil matanya mengerling nakal. Indra termasuk salah satu cowok yang pernah one night stand denganku, dulu sebelum aku menyadari bahwa dia ternyata tidak bisa dipercaya untuk tutup mulut.
"Eh.. Indra.. gak apa-apa. Iya nih udah lama engga ketemu," kataku sambil beringsut pergi. Aku selama ini berusaha menghindari ketemu Indra soalnya dia pasti akan minta jatah lagi. Tapi Indra dengan sigap bergerak dan mengapit tubuhku ke tembok, "Ness, gua udah lama kangen banget sama elo nih. Elo tau kan, gua sekarang udah putus sama si Cynthia. Adik gua ini udah sebulan belum dipuasin. Gua jadi inget terus waktu dulu tidur sama elo. Apa elo engga pengen merasakan kejantanan gua lagi?"
Aku mulai merasakan sesuatu yang keras mendesak perutku di bawah. "Dra, please jangan.. gua ada date nih malem ini. Kan engga enak sama date gua," kataku sambil berusaha mendorong Indra, tetapi Indra tetap lebih kuat dariku, dan menekan tubuhku ke tembok,"ayo dong Ness, bentar aja.. gimana kalo elu oralin gua deh."
"Dra, nanti deh.. kalo pesta udah beres, gua puasin elo. gimana?" aku sudah mulai putus asa, dan terpaksa menawarkan itu.
Indra tersenyum sesaat, lalu matanya turun ke arah buah dadaku yang tertutup tube top tipis. Puting susuku sudah mulai mengeras akibat kejantanan Indra yang menekan perutku dari tadi dan kemungkinan harus memuaskan dua cowok malam itu.
"oke.. nanti aku cari kamu, sayang," sambil berbicara, Indra menyelipkan tangan-nya ke dalam rok mini-ku dari bawah, dan meremas pantatku. Lalu dia pergi.
Aku berdiri menyender ke tembok sesaat, tanpa kusadari napasku sudah terengah-engah dan jantungku berdebar-debar gara-gara adrenalin yang mengalir deras.
Kuteruskan berjalan ke wet bar dan mengambil minuman Bombay Sapphire. Sambil meminum sedikit-sedikit, aku berjalan ke balkon rumah Ita. Di perjalanan ke balkon itu aku melihat beberapa cowok yang pernah merasakan tubuhku. Jack(bule) adalah orang pertama yang meniduriku di LA, pada hari pertama sekolah semester pertama di sini. Anto suka sekali bersenggama di tempat-tempat tersembunyi di sekolah, beberapa kali kami melakukan-nya di WC perpustakaan dan di kelas-kelas kosong. Budi, dengan badan-nya yang berotot dan atletis, sering menusukkan kejantanan-nya dulu ke dalam tubuhku di kamar mandi fitness center sekolahku. Kami dulu memang suka pergi bersama ke sana untuk berolahraga. Tapi hari ini aku menghindari semua cowok-cowok itu, dan pergi menunggu datangnya Tom.
Tak lama kemudian, Tom muncul di balkon diganden Ita yang kelihatannya sudah ingin melepaskan tangan Tom. "Tom, ini dia.. dari dulu gua pengen ngenalin elu duaan, kayaknya cocok deh hehe.. Enjoy!" Ita pun pergi kembali ke dalam.
"Tom, nama gua Vanessa," aku mengulurkan tangan untuk bersalam.
"Halo, gua kayanya sekelas dengan elu deh. EE411 ?"
Kami mulai mengobrol tentang sekolah, kelas, dan teman-teman kami. Tom mengobrol sambil sesekali mencuri pandang ke arah Ita. Ita memang kelihatan hot sekali malam itu dengan gaun potongan rendah di dada-nya. Chris, cowok Ita, berdiri di sampingnya, dan kelihatannya sudah tak sabar ingin menyeret Ita ke kamar tidur, tangannya dari tadi sudah menjelajahi punggung, pantat, dan kadang-kadang buah dada Ita.
Tom tampaknya mulai menyadari bahwa Ita sama sekali tak tertarik dengan dia.
Kami sudah mengobrol di balkon selama sekitar satu jam, dan Ita tidak sekalipun datang ikutan mengobrol, atau melihat ke arah kami. Kupikir, ini lah kesempatanku dengan Tom, kuambil tangan Tom, "Tom, I know you like Ita, but she's already with someone else" kucium perlahan bibir Tom, dan aku melihat dalam-dalam ke matanya yang biru indah, hampir membuatku orgasme di situ juga. Tom membalas ciumanku, dan kami french-kiss di balkon sambil berpelukan hampir selama setengah jam. Aku memutuskan untuk mengajak Tom ke tempat yang lebih sepi.. Kutarik tangan Tom menuju pintu kedua di balkon itu, yang kelihatannya gelap.
Kubuka pintu kaca itu, dan ternyata itu menuju kamar tidur Ita. Kudorong Tom ke atas ranjang, dia menari aku ke atas tubuhnya, dan kami pun mulai berciuman dengan lebih panas. Tangan kanan Tom mulai turun ke arah pantatku, dan menarik rok-ku ke atas. Sementara itu tangan kirinya menurunkan tube-top ku dan mulutnya mulai menjilat-jilat puting susuku. Kutarik kepalanya ke dadaku yang telanjang sambil mendesah-desah. Enak sekali rasanya.
Tiba-tiba Tom mendorong tubuhku ke ranjang, dan dia naik ke atasku. "Ness, gua dari dulu udah pengen mencicipi tubuh elu, sejak gua ngeliat elu di kelas, elu selalu terlihat seksi. Sudah lama aku ingin melakukan ini denganmu," Tangan-nya meraba-raba ke bawah perutku, dan menggosok-gosok kelentitku. Aku menggelinjang tidak karuan sambil tanganku meremas sprei. Dengan sekali sentakan, Tom merobek celana dalamku, dan menghujamkan penisnya ke dalam tubuhku. Napasku tersentak, orgasme pertamaku malam itu tiba-tiba melanda tubuhku, hampir saja aku menjerit kalau Tom tidak menutup mulutku dengan tangannya.
Sementara itu Tom terus bergoyang di atasku, kejantanannya yang kekar dan panjang bergerak keluar masuk lubang senggamaku. "Gua suka banget cewek asia, cantik-cantik, dan cepat sekali basahnya," ujar Tom ditengah mengent*tiku. Tangan Tom mulai mencubit puting susuku, dan mulutnya sesekali menjilati buat dadaku, membuatku hampir menjerit-jerit lagi. Kali ini, Tom menciumi aku dalam-dalam sambil bergoyang-goyang. Aku pun menutup mata, dan menggoyangkan pinggulku menikmati persetubuhan ini.
Tom berganti posisi lagi dengan menarik tubuhku untuk duduk di pangkuan dia. Rok dan tube-top ku masih bergantung di pinggangku menyerap sedikit keringat yang mulai keluar, sementara Tom masih berpakaian lengkap, hanya penisnya saja yang keluar. Kami berdua bersenggama sambil menghadap ke pintu kaca yang menuju ke balkon. Ditengah desahan nafsuku, aku melihat Indra sedang merokok sambil mengobrol dengan Budi di balkon.
Tangan Tom yang kiri meremas-remas buah dadaku, dan tangan kanan-nya mengusap-usap kelentitku sambil penisnya menusukku dari bawah. "Toommm... aku sebentar lagi keluarr..."
"Ness, tunggu bentar... ahh.. aku juga udah mau keluarrrr"
Kami berdua pun berpacu menuju kenikmatan, dan akhirnya kurasakan tubuh Tom menegang, dan penisnya membesar. Cairan sperma kurasakan hangat di dalam vaginaku, membuatku juga orgasme. Tom menjilat-jilat payudaraku sambil menungguku "turun" lagi. Rasanya aku hilang tenaga sama sekali, dan akupun tiduran di dada Tom sambil bernapas terengah-engah.
"Vanessa, apa ini berarti kita sekarang pacaran? " tanya Tom.
Aku tersenyum,"Engga Tom, ini berarti kita sudah pernah have sex bersama. Seriously, gua cuma mau have fun, engga ada apa-apa lagi kok."
Tom menarik napas lega, dia bangkit dari ranjang, mencium keningku, sambil meremas buah dadaku sekali lagi, lalu dia memasukkan penisnya lagi, dan pergi keluar kamar tidur.
Sebelum keluar, dia mengambil celana dalamku yang robek, dan memasukkannya ke dalam kantung kemeja dia,"untuk kenang-kenangan" katanya sambil tersenyum nakal.
Aku pun bangun, dan membereskan pakaianku seperti semula minus celana dalamku.
Setelah berkaca, dan memastikan aku kelihatan rapi, aku mulai berjalan keluar sambil berhati-hati untuk menghindari Indra yang masih sedang di balkon rumah.
"Ness!" Ita memanggilku dari ruang keluarga. Akupun berjalan cepat-cepat ke arah Ita, sambil mengawasi balkon. "Ness, thanks banget yah tadi bicara sama Tom. Tadi dia dateng & bilang ke gua good luck dengan Chris, kayanya dia udah engga terobsesi sama gua lagi deh." Huh.. kalo aja Ita tahu apa yang mesti gua lakukan untuk itu, pikirku,"Gak apa-apa Ita, Happy birthday! Gua mau pulang dulu deh, capek nih" ujarku. Ita memelukku sebelum aku pulang,"Vanessa, kok kamu keringetan sih ?" tanya Ita. Aku sedikit merasa bersalah tadi meniduri Tom di ranjang Ita,"ah.. enggak tadi dapur terlalu banyak orang."
Ita perlahan-lahan menurunkan tatapannya ke arah kakinya. Aku mengikuti arah tatapannya penuh tanda tanya, dan setelah aku melihat segumpal cairan putih di jari kaki Ita, akupun menyadari apa yang terjadi. Ternyata cairan sperma Tom telah mengalir keluar vaginaku, dan karena aku tidak mengenakan celana dalam, menetes ke kaki Ita. Rumah ita memang penuh dengan dentuman house music, dan sebagai akibatnya, aku harus berdiri dekat Ita dan berbicara di kuping Ita.
Ita pun ternyata menyadari apa yang telah terjadi, dan tersenyum padaku,"I hope you had a good time tonight.. ayo deh pulang, capek kan ?" Aku tersenyum lemah, dan berjalan ke arah pintu rumah Ita.
Karena aku tiba di pesta terlambat, mobilku diparkir agak jauh dari rumah Ita.
Begitu aku sampai di mobilku, aku mulai mencari-cari kunci mobilku di dalam tas tanganku.
Tiba-tiba kudengar ada orang berjalan di belakangku. Sebelum aku sempat membalik, dia telah mendorong tubuhku keras-keras ke mobilku dan membekap mulutku. "Ness, elo suka ngent*tin orang bule ya? Tapi sama gue elo engga mau? Gua juga tau udah berbulan-bulan elo ngehindarin gua terus" Ternyata Indra! "Loe kira tadi gua engga bisa ngedenger ranjang di rumah Ita ngebentur tembok pas elu ngent*tin Tom ? Nih rasain tongkol gue bikinan dalam negeri!" Indra meraba-raba selangkananku untuk melepaskan celana dalamku, tapi tentu saja dia tidak bisa menemukannya karena disimpan oleh Tom. "Engga pake celana dalem Ness ? Tentu aja.. elu sebenernya dateng ke pesta Ita udah pengen ngent*t, yah ? sengaja mencari mangsa ? "
Tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawab, Indra dengan kasar menyetubuhiku dari belakang sambil masih membekap mulutku. "Ohhh.. enak banget deh memiawlu, ness. Ahhhhh.. Si Cynthia engga ada apa-apanya dibanding badan elo." Tangan Indra yang satunya lagi meraba-raba dan memilin puting susuku. Rok miniku sudah naik ke pinggangku, dan penis Indra keluar masuk dengan cepat dari liang senggamaku. Aku mulai merasakan nafsuku naik, dan orgasme mendekat. Terus terang aku terangsang sekali dengan omongan jorok Indra, dan perkosaan dengan kasar seperti ini. "Ness,.. elo emang cewek bispak.. Ngent*t dengan dua cowo satu malem. cewek gila seks yah elo.." Diomongi seperti itu terus, aku pun hilang kendali, dan orgasme sambil menggeliat di pelukan Indra. "Ohh.. gua bisa ngerasain memiaw elo meremas-remas tongkol gua. Suka yah di perkosa seperti ini ? huh?" Indra kembali menghinaku dengan omongannya. Tapi apa daya.. memang aku menikmatinya, dan malah orgasme diperkosa seperti ini.
Tak lama kemudian, Indra pun orgasme, dan menyemprotkan spermanya di dalam rahimku. Entah sudah berapa kali aku orgasme diperkosa olehnya. Tanpa bicara, Indra memasukkan kembali penisnya, dan menarik retsleting celananya. Sebelum dia berjalan kembali ke rumah Ita, aku sempat menggumamkan.. "Dra, kapan lagi maen?". Indra hanya tersenyum, dan langsung berjalan.
Aku merasa lemas sekali, dan terduduk di samping mobilku sampai merasa cukup kuat untuk menyetir kembali ke apartement ku. Air mani Tom dan Indra bercampur dengan cairan birahiku mengalir keluar dari vaginaku. Akupun masuk ke mobil, dan mulai menyetir pulang, tak sabar untuk mandi dan tidur setelah melayani dua pria malam itu.
cerita 17 tahun cerita dewasa cerita cerita sex cerita seks cerita cerita seks cerita panas cerita seru cerita lucah indonesia cerita dewasa cerita sedap cerita perkosaan cerita sex melayu cerita seks melayu cerita porn 17 tahun 17tahun seks cerita koleksi seks cerita melayu seks gambar seks siswi smu bugil bugil gadis bugil model indonesia bugil foto bugil indonesia bugil foto 20 bugil foto agnes bugil artis bugil artis indonesia bugil gambar artis melayu bogel gambar melayu gambar bogel gadis melayu gambar lucah pramugari seks teen seks video cerita melayu seks indonesia cerita dewasa gambar bogel gambar janda bogel gambar lucah dewasa cewek bugil mahasiswi bugil model bugil
Monday, 19 November 2007
Tante Yohana
kasih kepada 17Tahun dot com karena kisahku sebelum ini sudah dimuat dan
juga untuk semua respon yang dikirimkan ke e-mail saya. Untuk para
pembaca yang akan membaca kisahku ini dan anda belum membaca ceritaku
yang sebelumnya mungkin cerita ini akan sedikit membingungkan, jadi
lebih baik anda membaca ceritaku yang sebelumnya. Dan selamat membaca.
*****
Kisahku dengan Tante Mira terus berlanjut dengan gaya permainan cinta
yang semakin seru karena baik Tante Mira maupun aku saling mengeluarkan
fantasi masing-masing (akan saya ceritakan lain waktu), hingga pada
suatu saat Tante Mira mengenalkan salah satu temannya yang kebetulan
ketemu disebuah restoran dimall daerah jakarta pusat. Sebut saja dia
Tante Yohana, dia juga wanita chinese yang berumur hampir 50, sebaya
dengan Tante Mira hanya beda 1 atau 2 tahun saja yang sudah ditinggal
suaminya karena wanita lain. Postur tubuhnya juga tidak jauh dengan
Tante Mira, agak gemuk hanya saja Tante Yohana lebih pendek dari Tante
Mira dan wajahnya juga lebih kelihatan tua karena tampak kerutan-kerutan
diwajahnya mungkin terlalu banyak pikiran.
Waktu itu dia sedang jalan sendirian akan makan dan kebetulan ketemu
dengan kami yang akhirnya dia diajak bergabung oleh Tante Mira, dan aku
dikenalkan oleh Tante Mira kepadanya sebagai keponakan jauhnya. Setelah
makan kami melanjutkan perbincangan sambil jalan melihat-lihat barang di
toko-toko yang ada dimall itu. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka
berdua secara bisik-bisik karena aku lihat lirikan Tante Yohana yang
melihat aku sambil senyum-senyum, dan setelah itu dia sering
mencuri-curi pandang melihatku. Setelah lelah jalan-jalan dan hari mulai
sore Tante Yohana akhirnya pulang.
"Oke, Mir. Aku pulang dulu ya, hampir sore nih. Sampai ketemu lagi
Ferry" kata Tante Yohana sambil tersenyum penuh arti kepadaku yang
membuat aku tambah bingung dan dia melenggang menuju carcall untuk
memanggil sopirnya.
Sepeninggal Tante Yohana kami menuju food court untuk membeli minum dan
istirahat.
"Fer, menurut kamu Tante Yo gimana?" tanye Tante Mira padaku setelah
membeli minum dan duduk ditempat yang agak memojok dan meminum minumannya.
"Mmm.. gimana apanya Tante?" jawabku bingung mendengar pertanyaan Tante
Mira sambil menyedot minuman ringan yang aku pesan.
"Ah kamu ini, pura-pura nggak ngerti apa emang nggak ngerti? Ya sifat
orangnyalah, bodynyalah, facenyalah dan lain-lainnyalah" jawab Tante
Mira agak sewot.
"Oo, kalo sifatnya sih saya belum tau bener, kan baru sekali ketemu,
tapi keliatannya orangnya baik dan ramah, terus kalo face dan bodinya
mm.. biasa-biasa aja tuh" jawabku sambil tersenyum.
"Emang kenapa Tante, kok Tante tanya gitu? Bikin aku bingung aja. Terus
tadi ngomongin apa sih? Kok pake bisik-bisik terus Tante Yohana jadi
aneh sikapnya" tanyaku pada Tante Mira.
"Fer, kamu tahukan kalo Tante Yo itu sudah lama hidup sendiri sejak
pisah sama suaminya. Nah tadi waktu Tante Yo lihat kamu dia langsung
tertarik sama kamu, dan dia nanyain tentang kamu terus ke Tante sebab
dia nggak percaya kalo kamu itu keponakan jauh Tante, jadi Tante
terpaksa cerita dech kedia siapa kamu sebenernya. Kamu jangan marah ya,
abis Tante Yo itu suka maksa kalo keinginannya belum kesampaian" jawab
Tante Mira.
"Terus.. mm.. dia pengen sama kamu Fer.. gimana? Kamu mau nggak?" tanya
Tante Mira dengan wajah serius.
"Wah gimana ya, repot juga nich kalo sampai dia ngomong-ngomong ke orang
lain, bisa tercemar nama Tante. Kalo menurut Tante dia bisa jaga rahasia
kita dengan cara gitu ya sudah, saya akan layani dia" jawabku serius juga.
"Tapi nanti kamu jangan lupain Tante ya kalo sudah dekat sama dia" kata
Tante Mira was-was.
"Ah Tante ini ada-ada saja, nggak mungkinlah saya lupa sama Tante,
sayakan kenal Tante dulu baru Tante Yo" jawabku menghibur Tante Mira
yang terlihat agak sedih dari ekspresi mukanya.
"Yah.. sapa tahu kamu bisa dapet lebih dari Tante Yo dan lupain Tante
deh" katanya lagi sambil menghembuskan nafas.
"Jangan kuatir Tante, saya bukan tipe orang yang gampang ngelupain jasa
baik orang kepada saya, jadi Tante tenang saja" jawabku kemudian.
"Okelah kalo gitu nanti Tante hubungi Tante Yo, biar dia nanti hubungi
kamu" kata Tante Mira kemudian.
Setelah itu Tante Mira lebih banyak diam entah apa yang ada dalam
pikirannya dan tak lama kemudian kamipun pulang.
Malamnya Tante Yo menghubungi aku lewat telepon.
"Hallo Ferry, ini Tante Yo masih ingatkan?" tanya Tante Yo dari seberang.
"O iya masih, kan baru tadi siang ketemu, ada apa Tante?" jawabku sambil
bertanya.
"Tadi Tante Mira sudah cerita belum sama kamu tentang Tante?" tanyanya
lagi.
"Sudah sih, mm.. memang Tante serius?" tanyaku lagi pada Tante Yo.
"Serius dong, gimana kamu okekan?" tanya Tante Yo lagi.
"Kalo gitu oke dech" jawabku singkat.
Lalu kami bercakap-cakap sebentar dan kami akhirnya kami janjian besok
pagi dilobby hotel "XX" didaerah jakarta barat dan dia akan datang lebih
awal karena akan check-in dulu, setelah itu teleponpun ditutup.
Keesokannya seperti biasa aku memakai baju rapi seperti orang kerja
supaya tidak terlalu menyolok dan aku menunggu di lobby hotel tersebut
karena aku juga datang lebih awal, tak lama aku menunggu teleponku
berdering.
"Hallo Ferry, ini Tante Yo. Tante sudah ada diatas, kamu langsung naik
aja di kamar 888 oke? Tante tunggu ya" kata Tante Yomemberitahukan
kamarnya.
"Oke Tante saya segera kesana, saya juga sudah di lobby" jawabku singkat
dan menutup pembicaraan.
Setelah mematikan teleponku agar tidak diganggu, aku naik lift menuju
kamar Tante Yo. Sampai didepan pintu kutekan bel dan Tante Yo membukakan
pintu.
"Ayo masuk, udah daritadi Tante sampai dan langsung check-in. O ya, kamu
mau minum atau mau pesan makan apa? tadi sih Tante sudah pesan makan dan
minum untuk dua orang, tapi kalau kamu mau pesan yang lain pesan saja,
jadi sekalian nanti diantarnya" kata Tante Yo sambil mempersilahkan aku
masuk dan menutup pintu.
"Yah sudah kalau Tante sudah pesan, nggak usah pesan lagi, nanti
kebanyakan makanan malah bingung" jawabku.
"Kok bingung kan buat gantiin tenaga kamu he he he" jawab Tante Yo
bercanda.
Kemudian Tante Yo duduk di sofa besar yang ada didalam kamar itu dan aku
duduk di sebelahnya, kami berbincang-bincang sambil menonton TV lalu aku
mendekati Tante Yo dan memeluk pundaknya, kemudian Tante Yo merebahkan
kepalanya kepundakku, kubelai rambutnya dan kukecup kening Tante Yo.
"Mmm.. kamu romantis ya Fer, pantes Mira suka sama kamu. hh.. sudah lama
Tante nggak merasakan suasana romantis seperti ini" kata Tante Yo sambil
menghembuskan nafas.
"Ya sudahlah Tante, yang penting hari ini Tante akan merasakan hangat
dan romantisnya cinta, karena hari ini aku milik Tante sepenuhnya"
jawabku menghibur dia sambil kukecup lagi keningnya.
Tante Yo menatapku sendu sambil tersenyum.
"Terima kasih sayang" kata Tante Yo.
Dan kutatap matanya yang sendu dalam-dalam lalu kukecup bibirnya.
Kecupanku dibibirnya perlahan berubah menjadi ciuman lembut yang dibalas
Tante Yo dengan lembut juga, sepertinya Tante Yo benar-benar ingin
merasakan nikmatnya berciuman yang sudah lama tidak dirasakannya. Kami
saling cium, saling kulum, dan saling memainkan lidah kemulut pasangan
kami. Kugelitik lidah Tante Yo dengan lidahku dan kusapu langit-langit
mulutnya sambil kupeluk tubuhnya dan kuraba wajah dan tengkuk serta
lehernya dengan tanganku yang lainnya.
"Ahh sayang, aku suka sekali ciuman kamu, mm.. ciuman kamu lebut dan
merangsang, mm.. kamu memang pintar berciuman, ahh.. ayo sayang beri
Tante yang lebih dari ini" kata Tante Yo disela-sela ciuman kami dan
berciuman lagi.
Tanganku mulai bergerak meremas kedua payudara milik Tante Yo
bergantian. Tapi aksi kami terganggu oleh pelayan yang mengantar makanan
yang dipesan oleh Tante Yo. Setelah pelayan keluar dan Tante Yo
memberikan tip, tiba-tiba Tante Yo menabrak aku dan mendorong aku hingga
terjatuh diatas tempat tidur dan dengan buas dia langsung memelorotkan
celana dan celana dalamku, hingga penisku yang masih tidur terbebas dari
sarangnya dan langsung diterkam olehnya. Disedot, dikulum dan digigitnya
penisku yang mulai bangkit dengan napsu dan buas, dan kedua tangannya
tak henti-henti mengocok dan memainkan kedua bolaku.
"Ahh Tante.. pelan-pelan Tante.. ahh.. enak sekali Tante.. ohh" desahku
menahan nikmat yang diberikan oleh Tante Yo padaku.
Tanganku hanya bisa meremas rambut Tante Yo dan seprei kasur yang sudah
mulai berantakan, tak lama kemudian kulepaskan kepala Tante Yo dari
penisku, kuangkat Tante Yo dan kurebahkan dikasur.
"Sekarang giliranku, Tante diam saja dan nikmati permainan ini ya"
kataku sambil mengecup bibir Tante Yo dan mulai mencumbu Tante Yo
sementara Tante Yo hanya diam saja sambil menatapku dengan sendu.
Kumulai cumbuanku dengan menciumi bibirnya dan perlahan turun kelehernya
sambil kubuka kancing baju Tante Yo satu persatu sambil terus turun
kedadanya. Setelah kancing bajunya terbukan semua, kuraih pengait BH
yang ada dibelakang dan kubuka sehingga ikatan BHnya terbuka dan ku
lepaskan BH Tante Yo lewat kedua tangannya tanpa melepas baju Tante Yo,
setelah lepas langsung kuciumi kedua payudara Tante Yo, kuciumi
seluruhnya kecuali putingnya yang sudah berdiri mengacung minta dikulum
tapi tidak pernah kukulum, setiap kali ciuman dan jilatanku sudah dekat
dengan putingnya ciuman dan jilatanku turun lagi kepangkal payudaranya
dan terus turun sampai ke perut dan bermain-main dipusar sambil kujilati
lubang pusar Tante Yo lalu naik lagi terus berulangkali, kusingkap rok
yang dipakai oleh Tante Yo kemudian tanganku mulai bekerja meraba-raba
paha dan lutut Tante Yo lalu mulai melepaskan celana dalam yang dipakai
oleh Tante Yo.
Ketika permainan mulutku mencapai perutnya kutarik celana dalam Tante
Yo, dan Tante Yo mengangkat pantatnya sehingga celana dalamnya dengan
mudah lepas dari tempatnya. Kupelorotkan celana dalam Tante Yo sampai
sebatas lutut lalu ciumanku naik lagi kearah payudaranya, dan ketika
jilatanku mendekati puting Tante Yo tangankupun mendekati vagina Tante
Yo dan ketika bibir dan lidahku mulai memainkan puting Tante Yo tangan
dan jari-jariku juga mulai bermain dibibir vagina Tante Yo yang ternyata
sudah basah. Ketika kukulum puting Tante Yo yang sudah berdiri dari tadi
kumainkan juga kelentitnya dengan jari-jari tanganku yang seketika itu
juga membuat tubuh Tante Yo melengkung keatas.
"Akhh.. Ferry.. kamu benar-benar gila sayang, kamu kejam sekali
mempermainkan Tante.. akhh.. ferry enak sekali sayang.. akhh.. gila..
kamu bener-bener gila sayang" teriak Tante Yo histeris sambil tangannya
meremas seprei dan rambut kepalaku bergantian.
Tak kuhiraukan teriakan Tante Yo dan aku terus mengulum kedua puting dan
menjilati kedua payudara Tante Yo bergantian. Tak lama kemudian
kurasakan vagina Tante Yo bertambah basah dan tubuhnya mulai bergetar
keras yang disertai erangan-erangan, akhirnya Tante Yo mendapatkan
orgasme pertamanya.
Pada saat tubuhnya mulai tenang, kulepaskan cumbuanku di payudaranya dan
langsung kuangkat kedua kakinya sehingga kepalaku dengan mudah menuju
kevaginanya dan langsung kujilat dan kukulum serta kusedot-sedot vagina
dan kelentit Tante Yo.
"Akhh.. ahh.. gila.. ini namanya penyiksaan kenikmatan.. ahh.. kamu
memang gila sayang.. ahh.. aku nggak kuat lagi sayang.. ahh.. terus
sedot yang kuat sayang.. ahh.. tusuk dengan jarimu sayang.. ahh.. tusuk
yang kuat.. ahh sayang.. Tante mau.. ahh.. mau dapet lagi sayang.. ahh..
kamu benar-benar gila" teriak Tante Yo histeris memohon, lalu tubuhnya
mulai bergetar lagi merasakan orgasme kedua yang datang menghampirinya.
Kuturuti permintaanya dengan menusukan jariku dan kumainkan jariku
dengan menyentuhkan jariku kedinding vaginanya yang berkedut-kedut
sambil terus bibir dan lidahku memainkan perannya dikelentit Tante Yo.
Tubuh Tante Yo bergetar keras dan pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti
irama tusukan jariku sambil tak henti-hentinya menjerit-jerit histeris
sambil kedua tangannya meremas dan menjambak-jambak rambutku.
"Ahh.. Ferryy.. sayang.. ahh.. enak sayang.. ahh.. sodok yang keras
sayang.. ahh.. sedot itilku yang kuat.. ahh.. yang kuatt.. " jerit
histeris Tante Yo mengantar orgasmenya yang kedua itu.
Dan ketika tubuh Tante Yo sudah hampir tenang lagi, kuhentikan juga
semua aktivitasku dan kulepas celana dalam Tante Yo yang masih sebatas
lulut sehingga lepas semua, lalu kuatur posisiku dan kutusukkan penisku
kedalam lubang vagina Tante Yo.
"Okhh.. jangan dulu sayang.. jangan.. ahh.. stop sayang.. stop.. biar
Tante istirahat dulu" pinta Tante Yo padaku, tapi aku tidak menghiraukan
permintaanya sambil terus kutusukan penisku sampai masuk seluruhnya dan
mulai kugoyang, kuputar dan kukocok penisku dalam vagina Tante Yo.
Tak lama kemudian kuangkat tubuh Tante Yo hingga posisi Tante Yo kini
dalam pangkuanku, dan dalam posisi Tante Yo sedang menaik turunkan
pantat dan menggoyangkan pinggulnya kulepas baju Tante Yo yang masih
melekat dan kulemparkan entah kemana lalu kubuka pengait dan resleting
rok Tante Yo dan kulepas rok Tante Yo dari atas dan kulemparkan juga
entah kemana hingga kini tidak ada selembar benangpun yang menempel
ditubuh Tante Yo lalu akupun melepaskan bajuku sendiri dan kulemparkan
sembarangan. Setelah melepaskan baju mulai kuputar-putar pantatku hingga
penisku lebih menggesek dinding vagina Tante Yo.
"Akhh.. sayang.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. kamu.. ahh.. kamu
memang gila.. ohh.. penis kamu benar-benar.. ahh.. kamu pintar sekali
sayang.. pintar dan gila.. ahh.. Tante mau.. ahh.. mau keluar lagi..
ahh.. Tante nggak kuat lagi sayang.. ahh" jerit Tante Yo histeris dan
tubuhnya mulai bergetar mendapat orgasmenya yang ketiga, kurasakan
cairan diliang vagina Tante Yo bertambah banyak dan kurasakan juga
kedutan-kedutan dari dinding vagina Tante Yo.
Lalu kurebahkan tubuh Tante Yo dan terus kugenjot penisku didalamnya
yang sekali-kali kuputar-putar pinggulku, tubuh Tante Yo tambah bergetar
dengan kencang, goyangan dan kocokan penisku juga tambah kencang, lalu
kumainkan tanganku dikelentitnya sambil kurebahkan kepalaku kedadanya
dan kusedot dan kukulum dengan kuat juga kedua puting Tante Yo
bergantian dan kedutan-kedutan dinding vagina Tante Yo juga bertambah
kuat sehingga penisku merasakan sensasi yang membuat aku merasakan
sesuatu yang akan segera meledak keluar.
"Akh.. Tante aku mau keluar Tante.. akhh.. aku keluar Tante" kataku
disela-sela kuluman mulutku diputingnya sambil terus mengocok penisku
dengan cepat dan kuat dalam liang vagina Tante Yo.
"Ahh.. iya sayang.. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. Tante juga.. ahh..
sudah nggak kuat lagi.. ahh" teriak Tante Yo dan memelukku dengan erat
sambil tubuhnya terus bergetar, kurasakan kuku-kukunya mencakar punggungku.
Lalu meledaklah cairan kenikmatan yang kukeluarkan dalam vagina Tante Yo
yang sudah basah sehingga bertambah basah lagi, ketika kenikmatanku
meledak dan tubuhku bergetar kenikmatan kukocok dengan keras dan kuat
penisku dalam vagina Tante Yo sehingga ada cairan yang keluar dari dalam
vagina Tante Yo yang kurasakan dari tanganku yang basah karena masih
memainkan kelentit Tante Yo. Tubuh kami sama-sama bergetar dengan
kencang, keringat kami bersatu dan seluruh ruangan dipenuhi oleh suara
erangan dan jeritan kenikmatan yang kami dapatkan pada saat bersamaan.
Setelah tubuhku dan Tante Yo mulai tenang kembali, kulepaskan penisku
dari vaginanya yang sudah sangat basah, lalu kubersihkan vagina yang
penuh dengan cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan jilatanku,
kujilati sampai bersih dan sayup-sayup kudengan erangan pelan Tante Yo
yang memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang baru saja dia
dapatkan. Setelah bersih kurebahkan tubuhku disamping Tante Yo, lalu
kupeluk dia dan kukecup pipi Tante Yo.
"Ahh.. terima kasih sayang.. terima kasih daun mudaku.. uhh.. rasanya
tubuhku ringan sekali bagaikan kapas yang masih terbang diawang-awang,
ahh.. nikmat sekali tadi kurasakan, kamu memang pintar sayang, baru
sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti tadi, sampai lemas tubuh
Tante" kata Tante Yo sambil membuka matanya dan tersenyum padaku.
"Ah Tante Yo bisa aja.. aku juga tadi nikmat sekali, kedutan dinding
vagina Tante Yo membuat penisku merasakan seperti diremas-remas, nikmat
sekali" balasku sambil kuusap keringat yang ada di keningnya dan kukecup
kening Tante Yo, lalu aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk
membersihkan tubuh yang penuh dengan keringat dan disusul oleh Tante Yo
dan kamipun saling membersihkan tubuh.
Selesai membersihkan tubuh dan dalam keadaan masih bugil kami lalu
menyantap makanan yang tadi dipesan oleh Tante Yo sambil bercakap-cakap
dan bercanda, sedangkan tangan Tante Yo tidak pernah lepas dari
selangkanganku. Selesai makan kami melanjutkan percakapan kami diatas
tempat tidur sambil saling memeluk hingga akhirnya kamipun tertidur
untuk memulihkan tenaga yang akan membuat pertarungan berikutnya lebih
seru lagi. Dan mulai sejak itu jadilah aku daun muda kesayangan Tante
Yohana dan Tante Mira.
Tante Vida yang Sintal
paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya
pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya
sekarang haus akan seks.
Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta.
Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah
surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di
rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya
istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk
menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat.
Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap
Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, "Dod, sudah tidur?"
Saya jawab dari dalam, "Belum, tante!"
Tante Vida bertanya, "Kalau belum boleh tante masuk."
Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante
Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia
masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian
gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa
pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang,
"Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?" Tanpa pikir panjang,
saya jawab, "Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini
kok!"
Tante Vida berkata, "Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di
kamar mandi. Yuk" Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar
mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana
saya sambil berkata, "Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod."
Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha
wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.
Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri
shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama
semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi
satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang
montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal
kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat.
Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya
yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma
bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks.
Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan
saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun
mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkan jari saya, dia meritih,
"Akhh, Dodi!" Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya
nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan
akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, "Aakhh, Dodi
terus Dod!" Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus
tahu-tahu dia sudah di atas saya. "Dodi sekarang tante kasih akhir
permaianan yang manis, ya?" Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang
sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua
sama-sama merintih, "Akhh! Lagi tante.. lagi tantee." Terus dia mulai
naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami
sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun
kami sempat mengulangi beberapa kali.
Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari
kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di
dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan
pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi
permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya
jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar
saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi
kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi "Hiperseks"
atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi
apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di
Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling
berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida.
Surabaya Indah
koper. Ayahku memperhatikan dengan wajah sedih karena aku satu-satunya
anak lelakinya harus pergi demi meraih masa depanku. Aku akan tinggal di
Surabaya bersama Tante dan Oomku.
"Papa harap kamu bisa menjaga diri dan berbuat baik, menurut pada Oom
Benny dan TanteLenny.." kata papaku.
Aku hanya diam menoleh menatap papaku yang nampak kurang bersemangat
karena kepergianku, lalu kupeluk papaku.
"Saya tidak akan mengecewakan Papa.." kataku sambil menuju ke pintu.
Aku naik angkot menuju ke terminal bus. Ketika sudah di atas bus, aku
membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya sambil berharap semoga
cita-citaku dapat tercapai. Sesampainya di terminal, aku melanjutkan
dengan naik angkot menuju perumahan mewah di daerah Darmo.
"Apa ini rumahnya..?" kataku dalam hati.
Nomornya sih bener. Maklum aku belum pernah ke rumahnya.
"Gila.., ini rumah apa istana..?" gumamku bicara pada diriku sendiri.
Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat
kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan gemuk
mengamatiku, lalu menegurku.
"Cari siapa ya..?" tanyanya.
"Apa betul ini rumah Oom Benny..?" tanyaku balik.
"Ya betul.. sampean siapa?" tanyanya lagi.
"Saya keponakan Oom Benny dari Jember."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Sampean pasti Den Welly, kan..? Tuan
sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin."
Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi
perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik
berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau
kutebak usianya sekitar 35 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang
masih perawan.
Dia tersenyum begitu melihatku, "Kok terlambat Well..? Tante pikir kamu
nggak jadi datang.." ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.
"Iya Tante.. maaf.." jawabku pendek.
"Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Bowo.., antarkan
Welly ke kamarnya..!" perintah Tante Lenny pada Bowo.
Lalu aku mengikuti Pak Bowo menuju sebuah kamar yang ada di bagian bawah
tangga. Aku cukup senang menempati kamar itu, karena aku langsung
tertidur sampai sore hari. Ketika bangun aku segera mandi, lalu berganti
pakaian. Setelah itu aku keluar kamar hendak jalan-jalan di
halamanbelakang yang luas. Ketika sedang asik menghayal, tiba-tiba suara
lembut dan manja menegurku. Aku agak kaget dan menoleh ke belakang.
Ternyata tanteku yang sore itu mengenakan kimono dengan rokok di
tangannya, rupanya ia baru bangun tidur.
"Oh Tante.." sapaku kikuk.
Tante tersenyum, dan pandangan yang nakal tertuju pada dadaku yang
bidang dan berbulu lebat. Badanku memang cukup atletis karena sering
berenang, fitness, dan aku memang mempunyaiwajah yang lumayan ganteng.
"Kamu sudah mandi ya, Wel..? Tampan sekali kamu.." kata tanteku memuji.
Aku kaget bukan main ketika ia mendekatiku, tangannya langsung
mengelu-elus penisku, tentu saja aku jadi salah tingkah.
"Saya mau ke kamar dulu Tante.." kataku takut kalau nanti dilihat Oom
Benny.
"Tunggu sebentar Wel, Tante ingin minta tolong mijitin kaki Tante..,
soalnya keseleo waktu turun tadi.." kata Tante Lenny sambil merengek.
Lalu dia duduk seenaknya, hingga kimono yang tidak dikancing seluruhnya
tersingkap, dan bagian dalam tante terlihat olehku. Gila.., ternyata ia
tidak memakai CD, sempat juga kulihat bulu-bulu tipis di sekitar
kemaluannya seperti habis dicukur.
Aku menahan nafas dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi Tante Lenny
yang tahu hal itu malah menarik lenganku dan mengangkat kaki kanannya
menunjukkan bagian yang sakit. Aku terpaksa melihat betis dan paha tante
yang mulus dan padat itu.
"Tolong diurut ya Wel.., tapi pelan-pelan aja ya.." ucapnya lembut.
Terpaksa aku memijit betis tanteku, meskipun hatiku cemas dan bingung.
Apalagi ketika aku mencuri pandang melihat paha dan selangkanganya,
sehingga nampak sekilas bagian yang berwarna merah muda itu. Tanteku
melirik ke arahku sambil tersenyum genit, aku semakin bingung dan malu.
Itu pengalamanku di hari pertama di rumah Oom Benny. Sudah tiga Hari Oom
Benny belum pulang juga, padahal aku ingin bertemu dengannya, sedangkan
tiap malam aku diminta oleh tante untuk menemaninya ngobrol, bahkan
tidak jarang disuruh menemani menonton VCD porno. Benar-benar
gila.Hingga pada suatu malam tanteku merintih kesakitan. Waktu itu tante
sedang nonton TV sendirian.
Tiba-tiba wanita itu memekik, "Achh.., aduh.., tolong Wel..!" keluhnya
sambil memegangi keningnya.
"Kenapa Tante..?" tanyaku kaget dan khawatir.
"Kepala Tante agak pusing.., aduh.. tolong bawa Tante ke kamar Wel..!"
keluh tante sambilmemegangi kepalanya.
Aku jadi kebingungan dan serba salah.
"Saya panggil Pak Bowo dulu ya Tante..?" usulku sambil ingin pergi.
Tapi dengan cepat tanteku melarangnya, "Nggak usah, lagi pula Pak Bowo
Tante suruh ke Pasuruan ngawal barang."
Aku jadi bertambah bingung. Terpaksa kutuntun tanteku untuk naik ke
ruang atas. Tante merebahkan kepalanya pada pelukanku, aku jadi
gemeteran sambil terus menaiki tangga.Sesampainya di dalam kamar, tante
merebahkan tubuhnya yang seksi itu dengan telentang. Aku menarik napas
lega dan bermaksud meninggalkan kamar. Baru saja kubalikkan tubuh, suara
lembut itu melarangku.
"Kamu mau kemana..? Jangan tinggalkan Tante.., tolong pijitin Tante..
Wel..!"
Mendengar itu seluruh tubuhku jadi teringat pesan papa agar menuruti
perkataan Oom dan Tanteku.
Perlahan kubalikkan badan, ternyata tanteku telah melepas kimononya. Dan
kini hanya tinggal CD saja. Tubuhnya yang masih padat membuat nafsuku
naik, payudara yang masih montok dan menantang itu membuat penisku mulai
tegang, karena aku belum pernah melihat keindahan tubuh wanita dalam
keadaan telanjang seperti ini, apalagi tanteku menggeliat perlahan.
Desahan bibirnya yang tipis mengundang nafsu dan birahiku, dan penisku
semakin dibuatnya tegang. Kuberanikan diri melangkah menuju ranjang.
Begitu sampai, tanteku yang pura-pura pusing itu tiba-tiba bangkit, lalu
memelukku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Wanita yang hipersex
itu dengan cepat melucuti seluruh pakaianku.
"Jangan Tante.., jangan, saya takut.." pintaku sambil mau memakai
pakaianku kembali.
"Kalo kamu menolak, Tante akan teriak dan mengatakan pada semua orang
bahwa kamu mau memperkosa Tante.." ancam tanteku.
Aku hanya terdiam dan pasrah. Wanita itu kembali mencumbuku, diciuminya
dan dijilatinya tubuhku. Begitu tangan halusnya mengenggam penisku, aku
langsung membalas ciumannya dan mulai menjilati payudaranya, lalu
kukulum putingnya yang berwarna merah agak kecoklatan itu. Tanteku
mendesah perlahan.
Selanjutnya kami memainkan posisi 69, sehingga penisku dihisap dan
dikemutnya. Nikmat sekali, kurenggangkan kedua pahanya sambil
kujilat-jilat kemaluannya yang mulai basah itu.
"Ahh.., aahh.., ayo terus jilat Wel..! Jangan berhenti..!" erang tanteku
keenakan.
Rupanya tanteku mengeluarkan cairan dari dalam liang kewanitaannya.
Cairan itu memuncrat di wajahku, lalu kuhisap dan kutelan semua. Aku
semakin terangsang, kujilati lagi kali ini lebih dalam, bahkan sampai ke
duburnya. Kemudian kami berganti posisi, kali ini aku berdiri dan tante
jongkok sambil mengulum penisku yang sudah sangat tegang.
Ternyata tanteku pandai sekali menjilat penis, tidak sampai lima menit
aku sudah keluar.
"Ahh.., ayo Tante.., terus jilat sayang.., acchh..!" desahku sambil
kudorong keluar masuk di mulutnya penisku yang besar ini.
"Tante mau keluar nih.., achh.. yeahh..!" erangku sambil kumuncratkan
maniku di mulutnya.
Tante menelan semua maniku, bahkan masih mengocoknya berharap masih ada
sisanya.
Setelah beberapa saat penisku mulai bangun kembali. Setelah tegang
dibimbingnya penisku masuk ke liang kewanitaannya. Kali ini aku di atas
dan tante di bawah. Agak susah sih, mungkin sudah lama tidak service
oleh Oom Benny. Setelah kepalanya masuk, kudorong perlahan hingga masuk
semuanya ke dalam.
"Ayo Wel..! Gerakin dong Sayang..!" pinta tanteku sambil menggerakkan
pantatnya ke atas dan ke bawah karena ia sekarang berada di bawah.
Akhirnya kudorong keluar masuk penisku dengan gerakan yang cepat,
sehingga semakin keras erangan tanteku.
Beberapa saat kemudian aku sudah ingin keluar, "Aahh..! Tante.., Welly
udah mau keluar.., ahh..!" kataku.
"Sabar Sayang.., Tante sebentar lagi nih..! Yeahh.. ohh.. ahh.., fuck me
Wel..! Kita barengan ya Sayang..? Oh.. yeah..!"
Rupanya tanteku juga hampir orgasme. Rasanya seperti ada yang
memijat-mijat penisku dan kakinya dilingkarkan ke pantatku. Tante
bergetar hebat dan memelukku sambil kemaluannya mengeluarkan cairan yang
menyemprot penisku. Tidak lama aku juga mengeluarkan air mani dan
spermaku di dalam vaginanya. Terasa begitu nikmatnya dunia ini. Akhirnya
kami berdua terkapar lemas.
"Hebat bener kamu Wel.., Tante nggak nyangka baru kali ini Tante
merasakan kenikmatan yang luar biasa..!" tuturnya dengan nafas
terengah-engah.
Aku diam tak menjawab, tapi dalam hati aku merasa bersalah telah
berhubungan dengan tanteku dan takut ketahuan Oom Benny. Tante turun
dari ranjang tanpa busana, lalu dia menyalakan sebatang rokok.
"Bagaimana kalau Oom Benny sampai tahu, Tante..? Saya takut.., saya
merasa berdosa.." kataku lemah.
Tapi tanteku malah tersenyum dan memelukku dengan mesra.
"Asal kamu tidak memberitahu orang lain, perbuatan kita aman. Lagi pula
Oommu itu udah nggak bisa melakukan hubungan badan sejak lama. Dia itu
impotent, Wel..!" tutur wanita tanpa busana yang penuh daya tarik itu.
"Jadi semua ini Tante lakukan karena Oom Benny tidak bisa menggauli
Tante lagi, ya..?" tanyaku.
"Ya. Bukan sekali ini saja Tante melakukan hal seperti ini.., sebelum
sama kamu, Tante pernah melakukannya dengan beberapa teman bisnis Oommu.
Terus terang Tante nggak tahan kalau seminggu tidak disentuh atau
dipeluk laki-laki.." tutur Tante.
Aku jadi geleng kepala mendengar penjelasan tanteku. Lalu aku bergerak
mau pergi, tapi dengan cepat tante menahanku dan mengusap-usap dadaku
yang berbulu.
"Well.., kamu harus bersihkan badanmu dulu.., mandilah supaya segar..!"
ucapnya lembut.
Aku tak menjawab hanya menarik nafas panjang, lalu melangkah ke kamar
mandi. Tubuhku terasa letih namun puas juga.
Begitulah pengalaman di Surabaya yang kualami 6 tahun yang lalu. Dan
sampai saat ini aku telah mempunyai istri dan seorang anak.
Sex Education Homework
*****
Kami kehilangan keperjakaan dan keperawanan kami bersama-sama. Hal itu
terjadi ketika usiaku baru menginjak 11 tahun, pada akhir sekolahku di
kelas 5. Memang tidak terlalu mengejutkan kalau dipelajari karena
pasanganku adalah tetanggaku Kathy, yang usianya setahun diatasku, dan
duduk dikelas 6.
Kita berdua satu sekolah di pinggir kota Chicago dan kami sudah
bersahabat sejak tiga tahun sebelumnya. Sampai kemudian aku
menganggapnya lebih dari sahabatku lainnya. Kathy agak tomboy, dia biasa
bermain mainan yang biasanya dikerjakan anak laki-laki. Sampai kemudian
tubuhnya berkembang seperti selayaknya seorang gadis, dan akupun mulai
kikuk kalau sedang bersamanya, tanpa kuketahui dengan jelas apa sebabnya.
Ibu Kathy telah cerai dan harus bekerja siang hari pada suatu rumah
makan. Keadaan ini semakin menyenangkan buat kami, karena kami berdua
biasa ditinggalkan sendirian berjam-jam pada siang hari. Biasanya kami
hanya sebatas duduk bersama sambil berbincang-bincang seperti anak-anak
lain pada umumnya. Tapi sore ini terjadi keadaan yang berbeda.
Hari itu kami baru mendapatkan pelajaran pendidikan-sex di sekolah. Pada
jaman itu, setahun sekali anak laki-laki dan perempuan dipisahkan untuk
mendapatkan 'pendidikan seks'. Sebenarnya pelajaran itu berupa pelajaran
biologi dengan sedikit tambahan informasi tentang masalah sex. Informasi
tersebut cukup rinci dengan dilengkapi pula dengan buku saku dengan
judul 'Apa yang harus diketahui anak laki-laki' atau 'Apa yang harus
diketahui anak perempuan'.
Disana tidak dijelaskan secara gamblang tentang aktivitas sex. Secara
alami anak laki-laki selalu ingin tahu apa yang telah diajarkan kepada
teman-teman perempuannya, demikian pula sebaliknya anak-anak perempuan
ingin tahu apa yang telah diajarkan ke teman-teman laki-lakinya.
Demikian pula yang kami perbincangkan hari itu.
Kami berdua berada di dalam kamar Kathy, di atas tempat tidurnya yang
berukuran besar, terbuat dari kayu jati yang nyaman. Kami duduk
berhadapan, Kathy membaca buku sakuku sedang aku membaca buku sakunya.
"Kathy, kamu mendapatkan bahan banyak banyak dari yang kuperoleh.
Contohnya lihat ini, ada proses haid dan Kotex!"
"Tapi mereka tidak benar-benar menceritakan secara jelas. Aku pikir kita
telah memiliki gambar atau semacam anu."
Aku benar-benar sangat mengharapkan, karena aku belum pernah melihat
tubuh perempuan yang telanjang dan seperti apa bentuk anunya dibawah
sana. Kathy memakai T-Shirt dan celana pendek, aku bisa melihat betuk
lengkungan bukit dadanya yang kecil, dan samar-samar aku juga bisa
melihat garis celah-celah diantara pahanya yang tertutup oleh celana
ketatnya.
"Aku tidak mengetahui mengapa mereka menyebutnya pendidikan-seks.
Padahal disini tidak menerangkan bagaimana cara melakukannya."
"Siapa bilang? Mari kutunjukan kepadamu," kata Kathy sambil
membungkukkan punggung dan meletakkan buku dihadapanku.
Kucium keharuman shampo rambutnya yang membuatku terangsang. Aku pun
merasakan ketegangan anuku didalam celanaku. Tapi aku mengharapkan
semoga dia tidak menyadari apa yang sedang kurasakan.
"Lihat! Disini dikatakan penis laki-laki akan tegang kaku dan keras.
Sehingga bisa dimasukkan ke vagina perempuan, yang lembut dan mudah
mengembang. Ketika dia ejakulasi, cairan sperma yang berisi jutaan sel
masuk ke vagina perempuan dan membuahi telur."
"Itu sudah ceritakan banyak kepadaku," katanya dengan menyindir,"Seperti
dimana letak liang vagina itu? Bagaimana cara penis memasukinya?"
Sebenarnya aku agak malu mendengar secara fulgar kata-kata itu di depan
seorang gadis, sehingga wajahku menjadi merah padam dan penisku semakin
menonjol keluar celanaku. Kathy membuka lagi lembar lainnya dan
menunjukkannya kepadaku suatu baris gambar.
"Disini tempatnya," katanya sambil menunjuk kesuatu gambar.
"Sudah jelas apa yang kumaksudkan? Tidakkah sudah cukup jelas yang kamu
cari?" kata Kathy.
Tiba-tiba sebuah ide masuk keotakku dan aku harus memutuskan untuk
mengambil resiko.
"Dimana milikmu?"
Aku hampir tidak percaya bahwa aku benar-benar berani mengucapkannya.
Aku tahu aku telah melakukan sesuatu yang bodoh, yang bisa diceritakan
Kathy kepada teman-temanku disekolah.
Kathy melirikku dengan ekor matanya beberapa saat. Dia kibaskan
rambutnya kebelakang dan menyisihkan rambut yang menutupi wajahnya.
Kemudian merebahkan punggungnya dan tangannya digerakkan ketempat
diantara kedua pahanya. Aku hampir tidak berani memandang ke arah bagian
tersebut. Kemudian disusupkannya disuatu tempat di celananya.
"Disini tempatnya."
Waktu terus berjalan dengan cepat dan aku tidak tahu harus berbuat apa
lagi. Aku Cuma tertawa dan berkata, "Itu bukan sangat dekat seperti apa
yang dikatakan di buku!"
Kathy juga tertawa, dan aku bisa merasakan 'anuku' semakin membesar.
Kami berdua melanjutkan membuka lembar lainnya sambil memperbincangkan
lebih lanjut. Aku jadi grogi ketika Kathy kemudian berkata,"Jadi
bagaimana penis bisa muat kalau dimasukkan kesana? Seperti yang
dikatakan buku ini. Apa betul?"
Ya ampun! Dia sedang memperbincangkan 'anuku'! Aku menelan ludah
beberapa kali sambil berkata,
"Kecuali, ketika penis sudah keras dan tegang."
Aku merasa jantungku berdebar semakin keras. Aku hampir tidak percaya
apa yang sedang terjadi! Itu tidak seperti yang sering aku impikan. Aku
belum mulai onani, dan proses ke arah sana terus berlangsung dengan cepat.
"Aku masih tidak paham bagaimana caranya penis bisa masuk kesana. Si
perempuan mestinya tidur di atas meja atau apa saja sedang laki-laki
dalam posisi berdiri."
"Aku sempat menyaksikan 'Wild Kingdom' semalam dan melihat dua singa
melakukan itu. Cukup menarik."
"Bagaimana cara mereka melakukan itu?" Tanya Kathy penasaran.
"Singa betina duduk sana dan singa jantan duduk dibelakangnya. Kukira ia
menaruh penisnya dari belakang."
"Mana bisa?" kata Kathy dengan nada meremehkan yang membuatku marah.
Kami memang selalu bersaing dan saling mencintai.
"Benar, Aku melihatnya dengan jelas."
"Tidak masuk akal, lihat" kata Kathy sambil tubuhnya memberangkang
dengan perut menyentuh kasur.
"Dengan posisi seperti ini bagaimana bisa masuk?"
"Singa betina bukan berbaring seperti itu. Kakinya ada dibawahnya,"
kataku sambil memperagakan posisi singa betina setengah berjongkok
dengan tangan bertumpu pada kasur.
"Sama saja tetap tidak bisa. Lihat?" Kathy memposisikan kakinya dan
sikutnya berada dibawah dadanya. Pantatnya diangkat, sehingga bulatan
pinggulnya nampak jelas dibungkus celananya yang ketat.
"Vaginaku tepat disini." Tangannya digerakkan diantara kedua pangkal
pahanya dan kulihat cembungan ditempat tersebut.
"Jika penis ditusukkan kesini, tidak akan bisa menjangkaunya."
Aku yakin bahwa aku yang benar, dan aku harus membuktikannya.
"Kenapa tidak, coba lihat," kataku sambil memposisikan tubuhku
dibelakang Kathy seperti singa jantan, dan penisku kutempelkan dibulatan
pantatnya.
"Hey, apa yang kau lakukan??" tanya Kathy dengan wajah merah padam.
"Membuktikan bahwa aku benar. Begini." kataku sambil mendorong dan
menggesekan tonjolan penisku pada bulatan pantatnya. Kurasakan sensasi
kehangatan menyentuh bagian tonjolan penisku.
"Penis akan ditusukkan dari sini, begini." Kuletakkan jari telunjukku
mengacung diposisi penisku, kemudian kugerakkan pinggulku kedepan
sehingga ujung telunjukku menusuk kepangkal pahanya.
"Ya, tapi tetap saja tidak bisa," kata Kathy tidak puas.
"Hey, aku tahu! Tunggu, jangan bergerak. Pindahkan posisi kakimu
diantara kakiku, nah sekarang gerakkan maju."
Dengan berlandaskan lutut aku berdiri diantara kedua paha Kathy,
kugerakkan pinggulku kedepan sehingga ujung jari telunjukku menyentuh
cembungan dipangkal paha Kathy.
"Ohh," desah Kathy. Pinggulnya terjungkit ketika ujung jariku menusuk
tepat di vaginanya.
"Begitu sudah tepat di vaginanya, singa jantan kemudian menindih tubuh
singa betina, sambil menusukkan penisnya kedepan."
Kurebahkan tubuhku dipunggung Kathy sambil menggerakkan pinggulku maju
mundur. Jariku kutusuk-tusukkan ke vagina Kathy. Aku hampir tidak
percaya dengan apa yang kulakukan, kenyataannya jari telunjukku sedang
menusuk dan menggosok bagian paling rahasia Kathy! Penisku jadi semakin
tegang dan kalau diteruskan lagi sepertinya aku bisa orgasme. Aku tak
tahu apa yang Kathy rasakan, yang pasti tubuhnya ikut menggeliat-geliat
setiap kali kusentuh vaginanya. Akhirnya Kathy sadar akan keadaan kami,
tubuhnya kemudian dibalikkan dan menjauh.
"OK, aku tahu yang kau maksudkan. Kau mungkin benar. Tapi kupikir
manusia tidak melakukan dengan cara seperti itu."
Aku terduduk dengan wajah merah padam, sejenak kutenangkan diriku agar
Kathy tidak tahu apa yang sedang bergolak pada diriku."Aku tidak
mengatakan begitu, aku hanya mengatakan bahwa dengan cara seperti itu
bisa dilakukan. Disamping itu apa ada cara lain untuk melakukan itu.
"Aku pernah melihat sesuatu di TV dengan Mamaku, tapi dia segera merubah
channel sebelum aku sempat melihatnya dengan jelas." kata Kathy
"Apa itu?"
"Mereka berada dibawah selimut sehingga aku tidak bisa melihatnya dengan
jelas. Tetapi perempuannya jelas sedang berbaring terlentang, seperti
ini," kata Kathy sambil berguling terlentang, dengan kedua pahanya
direnggangkan.
"Dan ada seorang laki-laki menindihnya dari atas."
"Tidak, dia tidak akan bisa berbuat sesuatu!" kataku penasaran.
"Kenapa tidak? Mari kita coba!"
Aku benar-benar khawatir. Aku tidak ingin melukai Kathy. Tapi aku ingat
katika bermain bola, kathy pernah ditindih beberapa anak laki-laki yang
ternyata tidak apa-apa. Tapi ada sesuatu yang membuatku berdebar-debar,
dengan posisi itu aku akan bisa bergesekan lebih banyak dengan gundukan
kecil di pangkal paha Kathy. Daerah itu terasa hangat dan telah
menghipnotisku sehingga sempat bembuatku hampir orgasme.
"Sekarang berbaringlah di atasku," kata Kathy.
Aku merebahkan diri menindih tubuhnya dengan bertumpu pada kedua
tanganku. Kurasakan sepasang bukit di dadanya menusuk dadaku! Desah
nafasnya menyapu wajahku dan kucium keharuman rambutnya, demikian juga
kehangatan yang terpancar dari pangkal pahanya. Aku benar-benar
terangsang berat, apalagi ketika kedua tangannya merangkul leherku
sehingga tubuh kami berhimpitan.
"Kamu menyukai posisiku seperti ini?" bisikku dengan suara bergetar.
"Yeah. Sepertinya nyaman," bisik Kathy. Mata kami saling pandang, 1001
perasaan bercampur aduk. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sampai
Kathy berbisik,
"Kamu pernah mencium seorang gadis?"
"T.. Tidak pernah," jantungku berdebar keras, aku tidak pernah sedekat
ini dengan Kathy. Wajahnya yang manis sekali tampak merah padam, tapi
malah kelihatan semakin cantik. Tubuhnya yang harum, padat tapi lembut
sekali.
"Aku juga," kata Kathy, kemudia kita tertawa bersama.
"Maksudku aku tidak pernah mencium seorang laki-laki, tapi.."
Tiba-tiba Kathy menarik wajahku dan.. Bibirku bersentuhan dengan
bibirnya.. Kami berciuman sambil menutup mata, bibir kami saling
bergesekan, saling menghisap dan lidah kami saling menyentuh dan
membelai.. Wow, sesuatu yang sangat luar biasa!! Getaran sentuhan bibir
kami sampai terasa kesekujur tubuh kami, terasa niimaat sekali, sulit
kami gambarkan dengan kata-kata. Ciuman itu terhenti karena kami
kehabisan napas.
"Ohh, luar biasa, manis sekali," desahku.
Tapi tiba-tiba aku terkejut ketika Kathy malah tetawa genit.
"Mnn.. Mmmhmm." tawanya yang genit lagi.
"Apa yang sangat lucu?" tanyaku penuh tanda tanya.
"Aku dapat merasakan kamu." kata Kathy sambil tersenyum manis.
"Tapi? Aku dapat merasakan kamu juga." kataku masih bingung.
"Tidak, maksudku aku dapat merasakan anumu.. Um.. Penismu. Aku merasakan
benar-benar sangat keras."
Aduh! Aku benar-benar telah melupakan! Aku benar-benar bodoh luar biasa,
dan Kathy bisa ceritakan teman-temanku! Aku bisa sangat malu, tapi hal
itu terjadi tanpa dapat kukendalikan.
"Oh.. Aku.. Minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja, itu terjadi
dengan sendirinya, tanpa dapat kucegah." kataku terbata-bata, sambil
bergerak mengangkat pinggulku.
"Hey, Aku tidak keberatan koq." kata Kathy, sambil melipat kakinya
memeluk pinggulku, sehingga aku tidak bisa bangun, dan kurasakan
tonjolan penisku semakin merapat erat dengan cembungan vaginanya.
"Aku.. Aku tidak tahu. Itu kadang-kadang terjadi dengan sendirinya."
kataku mencoba untuk menerangkan keadaanku.
"Benar? Bagus sekali." kata Kathy sambil menggerak-gerakkan pinggulnya
sehingga aku semakin terangsang.
"Seberapa besarnya?" bisik Kathy.
"Apanya?!" tanyaku agak panik.
Kathy tertawa genit, dia senang melihat kebingunganku.
"Seberapa besarnya mm penismu? Aku merasakan cukup besar. Aku hanya
tidak bisa memahami apakah anunya seorang gadis bisa dimasuki yang
sebesar itu?
"Aku tidak tahu, aku juga tidak pernah memikirkan seberapa besarnya."
"Coba kulihat," kata Kathy.
Hatiku semakin berdebar-debar, Kathy ingin melihat penisku! Apakah aku
harus telanjang bulat di depan seorang gadis? Tidak!
"Ayolah, biarkan aku melihatnya, please?"
Tunggu dulu. Ini adalah kesempatanku untuk melihat seorang gadis
telanjang. Ini benar-benar sesuatu yang luar biasa! Tapi aku tidak yakin
Kathy membolehkan aku melihatnya. Tapi ternyata Kathy mau! Kathy juga
benar-benar ingin melihatku telanjang. Hanya untuk melihat, tanpa
berbuat apa-apa lagi!
"OK, kamu dulu." kataku.
"Tidak, kita sama-sama." katanya.
Ini memang adil. Aku segera membuka bajuku, demikian pula Kathy. Detak
jantungku terasa semakin cepat. Aku pernah melihat Kathy dalam pakaian
renang, tapi ini benar-benar luar biasa. Sambil melepas bajuku, mataku
tidak pernah lepas dari bra-nya yang berwarna putih, dan juga kulit
tubuhnya yang kuning mulus. Aku benar-benar tidak pernah membayangkan
begitu luar biasa, apalagi ketika Kathy membuka kaitan bra-nya dan
melepaskannya.. Jantungku seakan berhenti bertetak..
Akhirnya aku benar-benar melihat buah dada seorang gadis!! Bulat, putih
bagai cream, puting kecil berwarna pink yang mencuat indah sekali.
"Mmm." Guman Kathy menyadarkanku. Kathy tersenyum-senyum malu melihatku
terbengong-bengong melihat kemulusan buah dadanya.
Aku segera melepaskan sabukku, Kathy menyusupkan jarinya memegang
elastik celana pendeknya dan berhenti menungguku. Aku segera melepaskan
kancing celana dan terus melepas celana jeanku. Penisku yang tegang
langsung tampak mencuat dari dalam celana dalamku. Tiba-tiba mukaku
merah padam, ternyata Kathy belum melepas celana pendeknya.
"Hey! Ayoi! Kamu kan janji bersama-sama!"
"Oh, maaf. Aku lupa," kata Kathy sambil sorot matanya tidak lepas dari
tonjolan penisku di celana dalamku.
Kathy kemudian berbaring sambil melepas celena pendeknya melewati
pinggulnya yang bulat indah. Tubuh kami berdua sekarang tinggal dibalut
oleh celana dalam. Aku benar-benar kagum dengan kemulusan kulit tubuhnya
bagaikan kulit bayi, kuning kemerahan dan halus sekali.
"Siap," kata Kathy.
"OK," kataku mantap.
Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi melihat tubuh seorang gadis yang
telanjang bulat di depanku. Dan.. Hal itu benar-benar menjadi kenyataan
ketika Kathy pelahan-lahan melepas celana dalamnya, bersamaan dengan
kuturunkan celana dalamku melewati kakiku.
Dan kemudian kami berdua sama-sama terbengong-bengong melihat tubuh
telanjang di depannya. Kulit tubuh Kathy benar-benar mulus, lekukan
tubuhnya benar-benar mempesona. Ketika sudut mataku melihat ke Kathy,
kulihat wajahnya merah padam dan sorot matanya menjelajahi seluruh
tubuhnya. Sepertinya wajahnya jadi semakin cantik dan oohh.. Sepasang
bukit dadanya benar-benar mengagumkan dan menggetarkan hatiku, tapi..
Bagian bawahnya.. Kulihat rambut kecil-kecil halus berwarna pirang
menutupi cembungan dipangkal pahanya. Tapi tidak ada lagi yang bisa
kulihat, sepertinya semuanya tersembunyi dibalik rambut halus itu.
"Wow," seru Kathy.
"Berbaringlah terlentang, aku ingin bisa melihatnya dengan jelas."
Aku tidak bisa menolaknya, aku terlentang sambil memperhatikan Kathy.
Dia bergeser mendekati diriku. Sepasang bukit dadanya ikut bergoyang,
pemandangan yang menakjubkan sekali. Aku tidak memperhatikan tangannya
sampai ketika jari-jarinya mengelus batang penisku dengan lembut."Oh
besar sekali, keras, tapi kulitnya lembut sekali." kata Kathy sambil
tangannya menjelajahi seluruh bagian penisku, meremas dan
mengusap-usapnya dengan lembut.
"Ouchh!" erangku. Sepertinga tubuhku melambung tinggi..
"Benar-benar luar biasa," desis Kathy benar-benar terpesona menyaksikan
penisku yang tegang kukuh dan keras. Kurasakan jari-jari Kathy
mengocok-kocok batang penisku naik turun dengan penuh gairah. Aku tidak
pernah melihat penisku menjadi sebesar itu, sepertinya penisku telah
mengembang secara maximum. Mataku tertutup rapat-rapat.. Mulutku
mendesah-desah tanpa dapat kukendalikan lagi,
"Ooohh.. Aaahh.." aku benar-benar tidak pernah merasakan senikmat ini.
"Kau senang aku beginikan?" bisik Kathy dengan suara genit.
Gerakan tangannya naik-turun semakin cepat sampai pinggulku
terangkat-angkat menahan nikmat dan geli luar biasa. Akhirnya aku tak
dapat menahan lagi, dengan diiringi teriakkan nyaringku, spermaku
meledak dan menyembur kuat keudara beberapa kali. Inilah untuk pertama
kalinya aku mengalami orgasme. Kathy juga berteriak tertahan dan
meloncat menjauhiku, gadis ini benar-benar terkejut melihat spermaku
yang begitu dasyat menyembur keudara dan sebagian jatuh menimpa tangan,
paha dan dadanya.
Beberapa saat aku terkulai lemas. Sepertinya aku sempat tak sadar
beberapa detik. Begitu pula Kathy, gadis ini terbengong-bengong melihat
kejadian yang benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya.
"Apa.. Apa yang terjadi??" kata Kathy terbata-bata.
"A.. A.. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mengalami seperti ini
sebelumnya." kataku tergagap-gagap.
Setelah berpikir beberapa saat Kathy berkata pelan.
"Aku tahu. Kau mengalami orgasme." katanya sambil mengusap-usap cairan
kental spermaku yang berhamburan kemana-mana.
"Ini adalah sperma. Tapi aku benar-benar tidak menduga proses keluarnya
begitu luar biasa."
"Yeah, memang sangat luar biasa. Aku merasakan kenikmatan yang luar
biasa dan sulit kugambarkan." kataku.
Kathy tertawa genit.
"Itu karena aku! Aku yang membuatmu sampai orgasme! Tadinya aku
khawatir, kau mengerang-erang seperti kesakitan."
"Yeah. Benar-benar luar biasa. Jari-jari tanganmu juga luar biasa"
kataku sambil melihat tubuh moleknya yang telanjang bulat. Dan akupun
tak ingin membuang tempo lagi.
"Hey. Sekarang gantian aku!! Cepat kamu berbaring" kataku.
"Tapi.. Tapi kau pelan-pelan ya??" kata Kathy."Aku takut."
"OK, jangan khawatir, aku tak akan menyakitimu."
Ya Tuhan, inilah hari bersejarahku sebagai seorang laki-laki.
Dihadapanku berbaring terlentang sesosok tubuh gadis yang luar biasa
cantiknya telanjang bulat. Mataku benar-benar termanjakan dengan
pemandangan yang benar-benar menakjubkan.
Pelahan-lahan kuusap cairan spermaku yang menempel di bukit kecil di
dada Kathy. Tanganku sampai gemetaran meraba kulit kenyal dan halus di
sepasang bukit indah itu. Puttingnya yang kecil jadi mengeras ketika
tanganku mengelus-elusnya. Apalagi ketika puting itu kepegang dan
kupilin-pilin lembut, Kathy mengerang lembut. Hatiku sampai berdesir
mendengar erangan aneh itu. Sepertinya mengandung kekuatan magis yang
membangkitkan kembali gairahku.
Kuturunkan tanganku menelusuri perutnya kebawah sampai daerah pangkal
pahanya. Kuusap-usap rambut halus pirang disana. Rambut yang panjangnya
sekitar 1/4 inci itu sangat lembut. Aku tidak menduga didaerah itu bisa
tumbuh rambut. Ujung jariku kususupkan ke celah-celah yang membelah
vertikal gundukan kecil di pangkal pahanya. Daerah itu ternyata basah
oleh cairan lendir.
"Buka lagi pahamu, aku tidak bisa melihat apa-apa disini."
Ketika Kathy membuka lagi pahanya, tampaklah celah-celah yang berwarna
pink yang mengkilat basah oleh cairan lendir.
"Wow!!"
Benar-benar pemandangan yang luar biasa, aku tidak pernah membayangkan
seperti itu bentuk vagina seorang gadis. Kudekatkan wajahku agar bisa
melihat lebih jelas daerah misterius yang sudah lama ingin kulihat.
Kucium aroma khas yang segar dan juga cukup harum. Kukita Kathy sangat
rajin membersihkan daerah itu. Tapi kembali aku tak bisa melihat apa-apa
selain celah vertikal yang tertutup. Dengan hati-hati kususupkan
jari-jariku kebibir vertikal yang cukup tebal itu, kurasakan kebasahan
dan kehangatan didaerah itu.
Pinggul Kathy terjungkit-jungkit setiap kali kugosok celah-celah itu,
bibirnya setiap kali juga mengeluarkan desahan-desahan aneh yang
merangsang pendengaran, apalagi ketika ujung jariku menyentuh tonjolan
clitorisnya. Sepertinya daerah tersebut sangat sensitif seperti juga
sulit penisku, dan Kathy juga merasakan nikmat yang tak kalah bebatnya
seperti ketika Kathy mengusap penisku. Aku jadi semakin bersemangat
menggerakkan jariku menyusuri celah-celah itu.
Akhirnya mataku melihat lubang kecil berwarna merah muda dibawah
tonjolan clitorisnya. Dari lubang itulah cairan bening itu keluar.
Lubang itu cuma sebesar ujung jari kelingkingku. Aku yakin itulah yang
disebut vagina yang tadi ditunjuk oleh Kathy, dan di buku dikatakan
bahwa penis dimasukkan ke lubang itu. Tapi koq begitu kecil? Kumasukkan
ujung jariku ke lubang itu, terasa hangat dan ketika kugerak-gerakkan
tiba-tiba aku sangat terkejut, sepertinga ujung jariku terhisap oleh
lubang itu. Aku jadi penasaran sekali, ketika akan kumasukkan lagi
tiba-tiba Kathy membentakku.
"Hey! Apa yang kamu lakukan?!" katanya sambil melompat ketika ujung
jariku kumasukkan lebih dalam.
"I just want to see what it feels like.", I said, still pushing. Now, it
was past the first knuckle.
"Aku hanya ingin tahu lubang apa itu.", kataku sambil terus mau
memasukkan ujung jariku lagi.
"Cut it out!" she was squirming. I kept pushing. She moaned and said
again, but more softly,
"Keluarkan cepar keluarkan." kata Kathy panik.
Ujung jariku seperti menabrak suatu dinding dan ketika kudorong lagi.
"Auw.. aduh stop!!" Jerit Kathy kesakitan. Dengan gugup kutarik ujung
jariku keluar lubang kecil dan sempit itu.
"Itukan lubang dimana penis dimasukkan bukan??" kataku mencari kepastian.
"Mungkin."
I started pushing my finger into her again,"Does it feel like a penis?"
Aku memulai mendorong lagi jariku ke dalam lubang itu,
"Apakah seperti dimasukkan penis?" tanyaku lagi. Pinggul Kathy kembali
menggeliat-geliat.
"Aduuhh stop, stop please!" Rintih Kathy.
Aku ingat ketika singa jantan memasukkan penisnya kevagina singa betina.
Tapi Kathy sepertinya merasa kesakitan dan keenakan sekaligus. Kini
jariku kugerakkan keluar masuk. Lubang itu begitu sempit dan ketat
menjepit ujung jariku. Cairan lendir semakin banyak keluar. Kulihat
Kathy tidak lagi kesakitan, cuman mulutnya tak henti-hentinya mendesis
keenakan dan tubuhnya menggeliat-geliat begitu menggairahkan.. Sampai
tiba-tiba tubuhnya menggigil dan mengejang,
"Aaahh.. Ooohh," jeritnya nyaring sambil menarik tanganku dari liang itu.
"Apa yang terjadi??" tanyaku keheranan.
"Entah, ahh." Desah Kathy dengan nafas tersegal-segal.
"Mungkin aku orgasme," bisik Kathy sambil tersenyum manis sekali.
"Ohh, kupikir memang benar penis harus dimasukkan ke lubang itu,"
kataku, "Tapi aku tidak yakin lubang itu terlalu kecil untuk ukuran penis."
"Kenapa tidak?" kata Kathy sambil melihat penisku yang mulai membesar
dan menegang lagi.
"Penis terlalu besar. Ujung jariku saja sudah sulit masuk, apalagi penis
yang ukurannya jauh lebih besar dan panjang."
Kathy meraih kembali penisku.
"Yeah aku tahu maksudmu."
Dia memperhatikan penisku dengan seksama sambil mengusap-usapnya.
Sepertinya dia sangat sangat tertarik dan menyukai penisku itu, seperti
barang antik yang sangat berharga.
"Jika tidak cukup, paling tidak kita bisa mencobanya untuk meyakinkan
samapi sejauh mana." kata Kathy sambil melirik ke arahku, senyuman genis
tersungging dibibirnya.
"Apa kau pikir cukup aman?" tanyaku ragu-ragu. Tentunya aku sangat
senang melakukannya, tapi aku khawatir Kathy akan kesakitan.
Kathy kembali berbaring terlentang dan pahanya dibuka lebar.
"Yakin. Bila tidak muat dimasukkan ke dalam milikku, maka kita akan
mencari cara lainnya. Apapun juga kamu bisa ejakulasi, dan itu tidak
akan menbuatku hamil karena tidak masuk ke dalam."
Aku segera menempatkan pinggulku diantara kedua pahanya. Terasa hangat,
basah dan lembut. Kugerak-gerakkan ujung penisku untuk menemukan lubang
itu, begitu menyentuh lubangnya, kutekan sedikit, kemudian kugerakkan
pinggulku sambil terus menekan. Sepasang bukit dadanya mengeras,
putingnya menusuk dadaku. Kedua tangannya merangkul leherku. Kami
kembali berciuman. Tubuh kamu saling menekan dan menggesek.
Kathy ketawa genit sambil berbisik, "Aku sangat senang kamu ada disini,
dalam posisi seperti ini," katanya sambil memelukku dengan mesra sekali.
Kami terus saling menggesek dan menekan, tangan kami juga saling
mengelus dan meremas-remas. Nafas kami semakin cepat dan tubuh kami juga
semakin panas, peluh kami mulai membasahi tubuh kami. Ini benar-benar
luar biasa. Gesekan-gesekan itu demikian nikmatnya. Tapi usaha penisku
untuk masuk ke lubang itu selalu gagal.
"Masih belum bisa masuk?" Bisik kathy.
"Coba kutekan agak keras lagi," kuangkat sedikit pinggulku, kemudian
kutekan keras, tapi ternyata malah meleset kesamping.
"Uhh.." desis Kathy.
"Coba kubantu," bisik Kathy sambil tangannya meraih batang penisku,
kemudian ditempatkan tepat di gerbang liang vaginanya.
"Tekan!!" kata Kathy.
"Yeah," kataku sambil menekan pinggulku cukup kuat.
Kuangkat sedikit lagi, kembali kutekan lebih keras sambil tangan Kathy
mengarahkan penisku. Kurasakan liang itu semakin mengembang dan
tiba-tiba sebagian ujung penisku berhasil melesak ke dalam.
"Stop!" teriak Kathy.
"Ohh.." keluhku, sambil menghentikan gerakanku.
Kepala penisku yang bulat sudah berhasil masuk keliang vagina Kathy.
Begitu ketatnya liang itu seperti mengunci ujung penisku.
"Ujung penisku sudah berhasil masuk," bisikku.
"Ya, aku tahu. Aku dapat merasakannya." kata Kathy.
Pelahan kutarik sedikit penisku pelan-pelan, kemudian kutekan lagi
dengan tekanan lebih kuat. Begitu kulakukan berulang-ulang sampai ujung
penisku tiba-tiba menabrak kuat dinding penghalang disana.
"Ahh, stop, kita sebaiknya berhenti, ohh jangan!" kata Kathy terbata-bata.
Meskipun mulutnya mengatakan jangan, tapi kurasakan pelukan Kathy malah
semakin erat, dan pinggulnya pun bergerak mengimbangi tusukannku.
"Kita sebaiknya berhenti.. Kita, ohh stop!" rintih Kathy.
"Yeah." kataku, tapi penisku tidak mau berhenti. Tekanan pinggulku makin
lama makin kuat sehingga akhirnya..
"Aaahh.. ADUH!! Ohh.. Aaahh," jeritan Kathy melengking kuat ketika
penisku berhasil menembus benteng penghalang itu. Batang penisku
tenggelam seluruhnya ke dalam liang yang sudah tidak perawan lagi,
sampai bola testicle-ku menekan pangkal pahanya. Jeritan Kathy dan
cengkeraman kukunya mencengkeram kuat di pundakku dan pahanya memeluk
kuat kuat pinggulku membuatku benar-benar terkejut.
"Aduh! stop, stop!" jerit Kathy.
Kurasakan jepitan liang vagina Kathy yang begitu kuat dan ketat sekali,
kurasakan juga denyutan-denyutan dinding liang itu seperti menyedot
penisku, dan kurasakan kehangatan disana.
"Kathy. Penisku sudah masuk semua." kataku sambil terengah-engah.
"I can tell. It hurt. A lot."
"Aku bilang stop! Sakit sekali tahu!" bentak Kathy. Kulihat wajahnya
merah padam dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku Kathy. Aku tidak bisa mengendalikan diriku."
"OK. Bisa kamu tarik keluar sekarang?"
"OK.." Aku cabut penisku pelan-pelan, Kathy merintih, kutekan lagi
pelan-pelan dan kembali kutarik lagi sedikit. Kurasakan sesasi gesekan
antara penisku dan dinding liang vagina Kathy begitu luar biasa
nikmatnya. Tubuhku sampai menggigil menahan geli dan nikmat yang teramat
sangat.
"Kathy, sebaiknya jangan dilepas," bisikku.
"Ya, aku tahu.." desah Kathy sambil menggerakkan pinggulnya keriri-kanan
mengikuti gerakan pinggulku. Tangan Kathy kembali memelukku erat-erat.
Seperti juga aku, sepertinya Kathy juga merasakan sensasi kenikmatan
yang sangat luar biasa. Dia ingin menghentikannya, tapi kenikmatan itu
sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan tiba-tiba kembali tubuh
Kathy mengejang sambil mengerang cukup keras, ketika Kathy mencapai
orgasmenya yang kedua kali. Kathy sepertinya mengatakan sesuatu
kepadaku, tapi tidak jelas, akhirnya ia menggigit pundakku.
Diding liang vaginanya berdenyut-denyut kuat, membuat penisku
tersedot-sedot dan sepertinya aku juga tidak kuat lagi menahan diri.
Kutekan penisku dalam-dalam dan..
"Aaahh.." spermaku menyembur kuat berkali-kali didasar liang vagina Kathy.
Entah berapa lama kami terkulai sambil berpelukan, penisku masih
tertanam diliang vagina Kathy..
Ketika kami sadar, segera kutarik penisku yang sudah mengecil itu.
Kulihat cairan spermaku bersama cairan vagina Kathy berhamburan
dimana-mana. Dan cairan itu berwarna merah.. Memang benar-benar darah
Kathy yang bercampur cairan sperma.
"Ya ampun, Kathy, aku benar-benar melukaimu, maafkan aku Kathy," seruku
panik.
"Ohh tidak!" jerit Kathy sambil melihat ke vaginanya.
"Kamu ejakulasi di dalam lubang vaginaku!! Kau masukkan spermamu di
dalam! Aduh, kamu bisa membuatku hamil!!"
Cepat-cepat kuperiksa vagina Kathy. Tidak kelihatan ada luka disana,
tapi darah keluar dari liang vaginanya. Aku yakin, pasti bagian dalam
liang vagina itu ada yang luka.
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menceritakan kepada orang lain
kalau Kathy sembuh nanti. Kami cuman bisa menunggu untuk melihat apakan
Kathy hamil atau tidak. Kami segera berpakaian dan aku segera lari
pulang kerumah. Sampai beberapa minggu kami berdua dihinggapi perasaan
takut. Dan Kathy pun sepertinya takut untuk menemuiku. Dia selalu
menghindar kalau melihatku.
Kami memang tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada orang lain,
dan kami juga tidak pernah melakukan hubungan sex lagi, tapi kami masih
berteman sampai beberapa tahun, sampai akhirnya aku pindah ke Denver.
Tapi aku tidak pernah melupakan hari bersejarah yang sangat menakjubkan
itu!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar